Facebook itu Sosial atau Anti Sosial?
Atau bersosial dengan cara yang berbeda…
[ds/f]
Facebook yang katanya jejaring sosial, lalu dalam kontekst pesantren ini apakah masih bertahan dengan slogannya itu?
Sebutlah orang-orang yang aktif mengupdate status semacam Maftuh Fuad Sofyani, Evie AnDi YaNi, Ismail Saleh ELsmile, El-Faqir Zainul Hakim, Asroful Anam, Ana Khovifah, Herry Kiss Potter, Muh Fadholi, DiAjenk Lynaa, Kang Guntur, Iephe Muviedah, Charis Fu’, Lily Moets, Aqib Fatahing Ngabdi, Jab Dijajah Wanita, Levi Ekayanti, Sang Pemimpi, Muhammad Subiyanto Al-Ahmad, Devi Ilmawati Azizah, Ahmad Harish, Farida Tunida, Jaelani Ahmad, Fahrudin Malik, Iffah Rahma, Arif Dwi Prianto, Ni’mah Laily Sulastri, Muhammad Zamroni, Zoelya Moet, dan lain-lainnya (maaf yang belum kesebut).
Mereka biang Fb di pondok ini, tapi 100 persen tidak bisa dikatakan mereka orang-orang yang anti sosial. Mereka orang-orang yang turut aktif (menurut penulis) yang ikut mewarnai wahid hasyim.
DS, Breaking news minggu pertama bulan November 2009 sempat memberitakan tips-tips dan menyinggung ada lebih dari 200 pengguna Fb di wahid hasyim, mungkin itu benar. Jika jumlah itu benar itu adalah jumlah yang fantastis! Jumlah prosentase dengan seluruh santri sekitar lebih dari 30 %. Meski yang aktif dari jumlah pengguna itu tidak lebih dari 40%. Keaktifannya bisa dilihat dari seringnya mengupdate status, mamberi komentar, mengunggah (upload) foto, mengupdate catatan dinding (wall), banyak indikator lainnya.
Waktu adalah contoh salah satu yang sering dikorbankan facebooker untuk FB disisi lain adalah biaya. Dan satu pertanyaan yang belum terjawab apakah mengorbankan sikap sosial kita? membuat facebooker cenderung antisosial. Lho kok bisa? Ada nggak dari kita yang lebih suka berkomunikasi dengan FB dibandingkan dengan orang disekitarnya. Pernahkah harus stop ketika sedang mengobrol dengan seseorang dahulu karena mendapat notifikasi pesan dari FB?
Bagaimana caranya membuat ending tulisan ini sampai pada kesimpulan Fb itu anti sosial? Nggak ada. Mungkin lebih tepat dikatakan dikatakan bersosial dengan cara yang berbeda. Semuanya kembali pada sikap kita dan itu sifatnya personal tidak bisa digeneralisasikan. Kesimpulan bisa bermacem-macam. Manfaatkan internet dengan bijak. [ds/f]
Link (Sambungan Kabel)
Damarsantri di Milis Yahoo! Groups
Komentar Terakhir
Download Damarsantri
Gabung di Mailing List Damarsantri
Buletin Damarsantri
Alamat Redaksi :
Email Redaksi : damarsantri@yahoo.com, oswah@journalist.com
Facebook itu Sosial atau Anti Sosial? Atau bersosial dengan cara yang berbeda…
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 09.07 0 komentar
Label: Artikel, Damarsantri Edisi 12
Semut, Laba-laba dan Lebah (Kewan opo kuwi??)
Semut, Laba-laba dan Lebah (Kewan opo kuwi??)
oleh Mas Kurniawan el-Jabal
Bukan sembarang hewan lho, tiga binatang kecil itu menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Quran yang sering kita baca, yaitu Al-Naml (semut) Al-Ankabut (laba-laba), dan Al-Nahl ( lebah).
Coba kita perhatian semut (tapi jangan sampe dia tau,ntar dianya malu),Semut menghimpun makanan sedidkit demi sedikit tanpa henti-hentinya.Konon,(konon lho ya)binatang kecil ini dapat menghimpun makanan untk bertahun-tahun,padahal usianya tidak lebih dari satu tahun( gile g` tuch).Sifat kelobaanya(lobo:dlm bhs jawa)sedemikian besar sehingga ia berusaha dan seringkali berhasil-memikul sesuatu yang lebih besar dari badannya, meskipun Sesuatu tersebut tidak berguna baginya.
Dalam surah Al-Naml antara lain di uraikan sikap Fir`aun,juga Nabi Sulaiman a.s. yang memiliki kekuasaan yang tidak dimiliki oleh seorang manusiapun sebelum dan sesudahnya. Ada juga kisah seorang raja wanita yang berusaha menyogok Nabi Sulaiman demi mempertahankan kekuasaan yang dimikinya.(iya pinter!Ratu Balqis)
Lain lagi uraian Al-Quran tentang laba-laba(Kita intip laba2 yuuk..):Klo kita perhatikan, sarangnya adalah tempat yang paling rapuh (Coba di chek QS 29:41), ia bukan tempat yang aman, apa pun yang berlindung di sana atau disergapnya akan binasa.Jangankan serangga yang tidak sejenis, Jantannya pun setelah selesai berhubungan layaknya suami istri di sergapnaya juga untuk di musnahkan oleh betinannya,(Wah..gile bener tuch serangga betina!Kejam tenani!!)Nah,kalo sudah bertelur, Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga saling memusnahkan.Demikianlah kata sebagian ahli perseranggaan(hehehe…).Sebuah gambaran yang sangat mengerikan dari sejenis binatang.
Lain lagi ceritanya dengan lebah bro,Coba dech kita perhatikan tuh lebah,dia punya insting yang sangat kuat,yang dalam bahasa Al-Quran-``atas perintah Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sbagai tempat tinggal``(QS 16:68,Klo g` salah lho ya,) dan sarangnya dibuat berbentuk segi enam men,kok nggak segi lima atau segi empat,ternyata agat tidak terjadi pemborosan dalam lokasi. Yang dimakannya adalah kembang-kembang dan tidak seperti semut yang menumpuk-numpuk makanannya, lebah mengolah makanannya dan hasil olahanya adalah lilin dan madu yang sangat bermanfaat bagi manusia, lilin digunakan sebagai penerang dan madu-kata AlQuran-dapat menjadi obat yang menyembuhkan.Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, dan segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak akan mengganggu kecuali yang mengganggunya lebih dulu,bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat lho,(Hebat nggak tu lebah?!)
Sikap hidup manusianseringkali diibaratkan dengan berbagai jenis bianatang. Jelas ada manusia yang``berbudaya semut``,yaitu menghimpun dan menumpuk ilmu(tanpa mengolahnya) dan materi (tanpa disesuaikan dengan kebutuhannya).Budaya semut adalah budaya menumpuk yang di suburkab dengan ``budaya mumpung``.Tidak sedikit sedikit problem di lingkungan sekitar kita bersumber dari budaya tersebut. Pemborosan adalah anak kandung budaya ini yang mengundang hadirnya benda-benda baru yang tidak dibutuhkan dan tersingkirnya benda-benda lama yang masih cukup indah untuk dipandang dan bermanfaat untuk digunakan. Dapat dipastikan bahwa dalam masyarakat di lingkungan kita masing-masing,banyak sekali ``semut`` yang berkeliaran.
Entah berapa banyak juga laba-laba yang ada di sekitar kita ini, yaitu mereka yang tidak lagi butuh berpikir apa,di mana, dan kapan ia makan, tetapi yang ia pikirkan adalah``siapa yang akan mereka jadikan mangsa.``Nabi saw,mengibaratkan seorang Mukmin sebagai lebah,sesuatu tidak merusak dan tidak pula menyakitkan: Tidak makan kecuali yang baik,tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa Sesutu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya``
Dapatkah kita menjadi ibarat lebah, bukan semut apalagi laba-laba?(Spider-Man kalee……,)[]
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 09.04 0 komentar
Label: Damarsantri Edisi 12, Fragmen
2012 Bukan film agama, itu fiksi ilmiah
2012
Bukan film agama, itu fiksi ilmiah
Doomsday 2012 dari status Fb Faishol Ahmad Posted Tue 17/11/09 at 11:35pm [ds/f]
2012 sempat menyita perhatian kita. Siapa sih yang nggak pengin lihat film ini? Di asrama santri putra copy film ini telah beredar meski tanpa translate dalam bahasa Indonesia. 2012?
Siapa sih yang juga bisa ngenahan untuk tidak ngomongin film ini. Berikut ini diskusi kecil penulis dengan temen2 di Fb yang merasa harus turut ikut andil dalam pembicaraan tema ini.
FA mui jatim ga ngebolehin nonton film kontroversi 2012. apakah mui tu cermin dr status keberagamaan kita ya?
FBM karena masyarakat kita lagi dilanda ketakutan kesedihan dari seringnya bencana belakangan ini. utk produser 2012: tega teganya.
AAM anda salah bung...jika anda orang yg mngerti agama 2012 mrupakan idle kiamat sughra...d mna pada hari tu dajjal d lahirkan tepat apa yang di kisahkan dalam kitab Alquran,riyaddhuscholihin, armageddon,n tentunya Alkitab jg mngulasnya..mari kita telaah kmbali smua yg brhubungan dg 12 tpat hari jumat...suku inca ja tlah mmprediksinya lbih awal dr koloni kita...hufth tp so far kita jg parno ni hanyalah intermezo alur kehidupan bung!! Istannah suwayyah
EAY pdhl Q mau nonton filmnya Lho. mgkn aja film itu bs mjd kesadaran, menambah ibadah, keimanan n ketakwaan Qt pada-Nya (jd ingat n siap" mati cz Qt hdp cm sebentar)
FBM masih kurang ya keimanan kita? sampe perlu penyadaran gituan, padahal bukti (kiamat) sangat dekat, baru kita alami blm ilang dari ingatan
AAM FBM: untuk kli ini ana stuju dg with pndapatmu bung....ni cma gambaran kiamat kecil(sughra),.....bukannya kita tidak sadar but kita munafik n kita dah buta akan prbedaan mana yg hak n yg bathil,hadzihil the luchiver's (dajjal's day) clues!!
EAY: anda terlalu lebay memaknai hdup ni,sorry if i say that....
QD yg mau nonton monggo..n siapkan tiket,yg g mau nonton no problem..nonton ceramah wae..
EAY iya emg kayaknya agak lebay statementQ, it doesn't matter I'm not a very sensitive girl. aQ jg ga prcy kl kiamat taun 2010 cz tanda" kiamat (kubro) blm terlihat smua, tp yg pntg kpn pun qt dipanggil tuk menghadap-Nya smg sll dlm keadaan khusnul khotimah.
RA Mui kn mmbrkn antsipasi ja bwt hal2 yg g di ingnkan. Trmasuk, mgkin ngayem2 bgsa qt ini. Slbhx, sbgy tlak ukur keagamaan qt, y ndak lah. Yg jls, qt brhak brkarya dn brfkr sesuai i'tiqad. Dn ttp dlm tnda kutip a y.
FBM yg prnah liat pasti tau, seharusnya ada kabah yg juga ikut hancur, tapi itu tdk ditampakan. aku rasa cerdas sutradara film itu menampilkan kabah dan orang yg mengitarinya sblm bencana itu trjadi. tapi umat islam terlalu sensitif. mui emang harus ambil peran, salut buat mui..
FBM adalah penulis, FA adalah pemilik Fb yang mengupdate status dengan tema ini. Ini hanya contoh kecil tapi setidaknya bisa menggambarkan bagaimana pendangan kita terhadap film ini dan cara kita menyikapiya.
2012 Bukan memang film agama. Jika tidak bila dikatakan ilmiah anda boleh mengatakana itu fiksi ilmiah. Meski begitu kaum beragama merasa perlu memberi catatan pada film ini. Tidak ada masalah. [ds/f]
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 09.00 1 komentar
Label: Damarsantri Edisi 12, Fragmen
Peran Pondok Pesantren di Era Modern Unggul Ilmu pengetauan dan teknologi (Iptek) dan Iman dan Takwa (Imtaq)
Peran Pondok Pesantren di Era Modern
Unggul Ilmu pengetauan dan teknologi (Iptek) dan Iman dan Takwa (Imtaq)
oleh Teguh Luhuring Budi
Tak asing kiranya bagi kita tentang keberadaan pondok pesantren sebagai salah satu lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan dan dakwah, yang hadir di tengah-tengah masyarakat guna produksi insan berbekal Spiritual Quotient (SQ), Emotional Quotoent (EQ) dan Intellectual Quotient. Disisi lain, mengambil dari pembumian argumen masyarakat Madura yang mengatakan pondok pesantren sebagai ”Penjara Suci” yang pendefinisian terminologinya adalah ”pengukuhan jiwa dari expose indikasi nasfu negatif”. Sekian banyak ta’bir pendeskripsian argumen etimologi dan terminolgi pondok pesantren, namun tentunya kebijakan sikap terhadap pluralitas kita yang harus didudukkan dalam prioritas demi integralisasi ideologi yang berujung pada hal yang bersifat ”aplikatif”.
Perputaran dan pergolakan zaman mitos yang terus mengalir melewati empirisme, rasionalisme sampai pada kajian ilmiah yang pengimplemantasinya dikerucutkan oleh para ilmuwan kita dengan mana ”eksperimen”, dan terus berlanjut pada era modern ini telah menjadikan dirinya sebagai sejarah perkembangan manusia. Demikian hebatnya menusia yang mampu mengubah stupidnya (zaman/masa kebodohan) menuju terbuminya era modern yang akan terus menerus bergerak. Era modern yang bisa dijuluki sebagai ”dunia praktis” atau ”jendela dunia” memang tak mungkin kiranya untuk dipungkiri, melirik sejarah perkembangan pola pikir mereka yang terus maju terhadap objek maretiil dan didukung oleh kuantitas objek formal. Terlepas dari itu semua tentang hadirnya konteks suatu zaman yang terkadang bernilai koherensif terhadap konteks zaman lain serta adanya ”negative impact” dan ”positive impact” yang selalu mengiringi perjalaan segala sesuatu dalam esensi kehidupan dan alam semesta.
Melirik pada realitas diatas hal ini menciptakan benturan tajam antara peran pondok pesantren yang mengajarkan kesederhanaan, tasamuh, taukidul akhlaq ta al-tauhid dan lain-lain, dengan adanya modernitas berbentuk westernisasi di tanah air tercinta kita. Satu sisi pondok pesantren akan tampak begitu konserfatif jika tidak dapat menunjukkan dirinya ke dalam danau modernisasi. Namun dihadapkan pada sisi lain, modernisasi berbentuk westernisasi yang tersebar dan masuk ke tanah air tercinta, dan salah satu pondasinya adalah pondok-pondok pesantren telah membuahkan negative impact. Fakta kadaluarsa, telah lama bersedih terhadap membuminya degradasi moral, lunturnya nilai agama, melemahnya nasionalisme, pudarnya pluralitas corak budaya dan adat istiadat, serta masih banyak lagi contohnya dari kacamata faktual.
Berbicara tentang pentas komunikasi alam, selayaknya memang untuk tidak saling menyalahkan terhadap todongan negative impact dan mengkultuskan positive impact saja. Namun daripada itu, satu sikap uyang terpenting adalah bersamanya seluruh elemen, khususnya masyarakat pondok pesantren dalam kontribusi implementasi indahnya pentas komunikasi alam yang dipenuhi unsur-unsur positif.
Mengingat tiga konsep ESQ sebagai keberhasilan dan kesuksesan manusia dalam kehidupan oleh Ary Ginanjar, maka tepatlah di abad dua puluh, pondok-pondok pesantren Islam di Indonesia telah mereformasi diri mereka sebagai pondok pesantren modern untuk memproduksi insan siap tempur (multilevel dan multi bidang dalam peraturan modernitas) berbekal unggul Ilmu pengetauan dan teknologi (Iptek) dan Iman dan Takwa (Imtaq) yang akan diterjunakan di seluruh stratifikasi masyarakat (sosial, ekonomi, budaya, dan pendidikan).
Sejenak berbalik pada tiga konsep ESQ oleh Ary Ginanjar, tibalah sudah pada ranah spiritual Quotient sebagai peran pondok pesantren. Pondok Pesantren sebagai wadah pembinaan spiritual seringkali dijadikan objek bagi masyarakat multilefel kita, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tidak jarang tentunya, banyaknya para orang tua kita yang merelakan anaknya menuntut ilmu di pondok pesantren sebagai salah satu bentuk pemuasan rohani mereka. Adapun peran emotional pondok pesantren adalah produk berjiwa besar, sosial tinggi, kedewasaan menyikapi masalah dan masih banyak hasil lain pada insan sebagai produk pabrik berlebel pondok pesantren Islam. Ialah satu taukid (intelectual) peran pondok pesantren dari dua konsep (emotional dan spiritual) diatas, jelaslah sudah berapa banyak pembesar kita (KH. Abdurrahman Wahid, KH. Mustofa Bisri, Nur Kholis Madjid, Din Syamsudin, Alwi Sihab, Quraish Sihab, dll) sebagai original produk dari pabrik pondok pesantren.
Pengetahuan umum telah kita ketahui, bahwa abad mutakhir pesta reformasi pondok pesantren salafiy menjadi pola modern, telah mangkolaborasikan pembelajaran materi agama dan umum degan satu atap ”fullday school”. Disinilah kenyataan dan bukan pemutar balikan fakta, bahwa pondok pesantren tak terlihat exist pada pembinaan spiritual, emotional quotient, dan monotonnya intellectual pada satu bidang (ilmu keagamaan atau keislaman) saja, lebih dari itu adalah pembekalan saintek/ilmu umum dan beberapa lumasan ekstrakkulikuler kesenian dan keterampilan (beladiri, organisasi, menjahit, teater, managemen bisnis, kaligrafi, qira’ah bil ghina’, olehraga, gambus, dan lain-lain) guna hasil unggul yang diaplikasikan di tengah-tengah masyarakat dlam percaturan sengit dunia modernitas.[]
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 08.55 0 komentar
Label: Damarsantri Edisi 12, Opini
Ada Cinta di Idul Adha Di sana kepatuhan, ketulusan, dan keikhlasan.
Ada Cinta di Idul Adha
Di sana kepatuhan, ketulusan, dan keikhlasan.
oleh Asiyah Lu’lu’ul Husna.
Idul Adha adalah hari penuh kemenangan. Dalam hari yang dirayakan kaum muslimin seluruh dunia itu terkandung nilai kepatuhan dan keikhlasan saat menjalankan perintah Allah SWT. Idul Adha adalah wujud keikhlasan yang tak tertandingi.
Adalah hari ketika ajaran Nabi Ibrahim AS menjadi teladan. Ia juga menjadi salah satu monument terbesar umat manusia untuk menandai betapa dalam menjalankan perintah Sang Pencipta, manusia harus ikhlas merelakan apa pun yang paling berharga dalam hidup. Termasuk melepas anak terkasih bila itu memang dikehendaki Sang Khalik. Dan ritual penyembelihan Islmail oleh sang ayah, Ibrahim, menjadi salah satu hikmah terpenting dari hakikat Idul Adha. Di sana kepatuhan, ketulusan, dan keikhlasan. Di sana ada pula spirit untk berkorban. Itulah contoh pengorbanan terbesar yang pernah dilakukan hamba Allah.
Spirit Pengorbanan Ibrahim
Spirit pengorbanan denegan bobot sekaliber Ibrahim saat menyembelih sang anak, Islmail, adalah amal langka dalam konteks kekinian. Ia menjadi sebuah kemustahilan, bahkan keajaiban. Pada era ketika individualisme meraih pencapaian tertinggi di puncak kejayaan materialisme seperti sekarang ini, spirit pengorbanan lebih bermakna ziarah kepada egosentrisme.
Kini hal-hal yang menyangkut pengorbanan telah banyak yang hilang digantikan dengan spirit mengabdi kepada motif mendapatkan keuntungan setinggi-tingginya. Semua dilakukan dengan pamrih yang kian lama kian menjauhkan individu dari ikatan-ikatan sosial. Idul Adha mengandung spirit untuk menautkan kembali ikatan-ikatan yang telah terlepas itu. Karena itu, spirit yang terlahir sekian ratus tahun lalu itu menjadi sangat relevan hingga hari ini. Dalam konteks Indonesia, semangat ini bahkan telah menjadi sebuah urgensi. Banyak persoalan bangsa muncul akibat lemahnya spirit untuk berkorban bagi orang lain, spirit untuk berkorban bagi sesama.
“…menjadi salah satu hikmah terpenting dari hakikat Idul Adha. Di sana kepatuhan, ketulusan, dan keikhlasan. Di sana ada pula spirit untk berkorban”.
Pengorbanan Sarah
Bukan hanya soal anak, pengorbanan Sarah untuk dimadu dengan Hajar, yang mana ia adalah pembantu Ibrahim. Demi mendapatkan keturunan, Sarah rela untuk diduakan. Dan Hajar pun rela ketika ditinggal Ibrahim untuk berdakwah di padang pasir yang panasnya bukan main hanya dengan si kecil Ismail yang pada saat itu Ismail menangis menderu-deru kehausan, dan bagaimana jika kau yang jadi ibu? Pasti akan melakukan apapun untuk mendapatkan air. Sampai tujuh kali Hajar berlari-lari di terik siang yang membakar pada Shafa lalu kembali ke Marwa, begitu seterusnya padahal jarak diantaranya jauh sekali. Hingga dengan gesekan - gesekan kaki kecil Ismail, menyemburlah air yang kita kenal dengan zam-zam.
Allah mencintai Ibrahim. Ibrahim sangat mencintai keluarganya. Di ujilah oleh Allah, mana yang lebih kau cintai? AKU atau mereka? Maka terjawablah semmua itu pada peristiwa ini. Isul Adha.
Kiranya spirit pengorbanan yang dilakukan oleh keluarga Ibrahim sangat bisa dijadikan contoh, untuk belajar tentang pengabdian dan keikhlasan, bahwa sandaran segala amal baik tidak lain hanya pada Allah semata.[]
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 08.52 0 komentar
Label: Damarsantri Edisi 12, Wahid Hasyim
Tutuplah Selagi Bisa
Tutuplah Selagi Bisa
oleh Asiyah Lu’lu’ul Husna.
Tutuplah pintumu
Tutuplah
Serapat kau bisa menutup dan menjaga
Biarkan aku mencoba
Mambuka tabir pintumu
Selagi aku masih ada
Tutuplah pintumu
Serapat kau bisa menutup dan menjaga
Tak usah kau hiraukan aku
Tergeletak, terbaring tiada daya
Di depan bibir pintumu
Basuh air matamu
Kembangkan senyum di bibirmu
Selagi aku masih ada
Selagi aku masih bisa
Jangan kau buat aku menjadi lemah
Karena sayang dan cintamu
Tutuplah pintumu
Serapat kau bisa menjaganya
Biarkan aku membukanya dengan dayaku
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 08.47 0 komentar
Label: Damarsantri Edisi 12, Sastra
Cinta tak Pernah Hilang Ia harus menang melawan perasaannya. Ia harus gapai impiannya…
Cinta tak Pernah Hilang
Ia harus menang melawan perasaannya. Ia harus gapai impiannya…
oleh: Alvin Firdausy
Jika cinta kita hanyalah keinginan untuk memiliki, hal itu tak bisa dinamakan cinta.
Kata orang, lebih baik pernah mencintai dan kehilangan cinta daripada tak pernah mencintai sama sekali.
Namun, kata-kata itu tak akan bisa menghibur Alvin, anak santri Pesantren Al IkhlasYogyakarta asal Banyuwangi. Ia baru saja diputus pacarnya, Annisa, anak santri pesantren Al Ikhlas yang juga berasal dari Banyuwangi. Tentu saja Nisa, begitu panggilannya, tak mengatakan segamblang itu. Ia berkata, “Aku benar-benar menyukaimu, Alvin. Aku mencintaimu. Tapi, tolong ngertiin aku. Ini untuk kebaikkanku, juga untuk kebaikanmu. Kau punya cita-cita, aku pun punya cita-cita. Kejarlah impianmu, aku pun akan kejar impianku.”
“Apa kau merasa bahwa hubungan kita hanya menjadi beban?” tanya Alvin.
“ Tidak. Sama sekali tidak.”
“Terus kenapa, Nisa?” Alvin mulai berang. Tapi ia mencoba untuk tenang. Ia tahu betul sifat Nisa.
“Baiklah, akan aku jelaskan. Kau tahu kan, aku ingin menjadi hafidzoh?
“Ya, aku tahu. Lanjutkanlah ceritamu.”
“Dulu, sebelum aku datang ke Jogja, ibu menasehatiku. Ibuku seorang hafidzoh, jadi beliau tahu betul tentang suka-duka disaat menghafal Kalam Allah. Ibu melarangku pacaran selama aku menghafal itu. Ibu membolehkan aku pacaran kalau sudah jadi seorang hafidzoh. Aku juga tak tahu mengapa ibu melarangku pacaran. Tapi yang aku tahu, itu pun dari ibu, cobaan yang paling berat saat menghafal adalah pacaran. Ibu tidak ridho jika aku menghafal tapi pacaran. Perkataan ibu adalah sabda bagiku. Tolong ngertiin aku, Vin”.
Alvin masih ingat betul kata-kata mantan kekasihnya itu. Ia dan Nisa sudah pacaran sejak kelas satu SMA. Tapi, kini ia diputus pacarnya. Sekarang, saat ia menjalani masa-masa kuliah yang indah, ia merasa kesepian. Tapi, ia tak bisa begitu saja menyalahkan Nisa. Di sisi lain, ia juga ingin memarahi Nisa yang telah membuatnya kesepian. Ia bingung. Selama tiga tahun mereka mempunyai teman-teman yang sama dan menghabiskan waktu di tempat yang sama. Pergi ke tempat itu membuat Alvin merasa hampa.
Latihan qira’ah di pesantren biasanya bisa membantu melupakan masalahnya. Sang pelatih menyuruhnya untuk latihan dan terus berlatih sedemikian rupa sehingga ia merasa kelelahan dan ia tak punya waktu lagi untuk memikirkan yang lain, termasuk Nisa. Tapi, belakangan ini, pikiran Alvin tidak tercurahkan pada latihannya. Sempat ia dimarahi habis-habisan oleh sang pelatih karena latihannya yang berantakan membuat semuanya juga ikut berantakan. Itu karena Alvin sangat dipercaya oleh sang pelatih karena bakatnya melantunkan ayat-ayat kauni-Nya yang maha indah.
Alvin tahu bahwa jangan sampai ia dibentak kembali oleh sang pelatih. Ia tak ingin mengecewakannya.
Saat ia hendak beranjak ke asrama, sang pelatih menghentikannya.
“Keluarga, sekolah, atau diputus cewek. Yang mana yang meresahkan hatimu? Tanya sang pelatih pelan.
Alvin diam. Ia bingung. Ia malu jika sang pelatih mengetahui masalahnya.
“Katakan saja, Vin. Biar bapak bisa bantu.” Sang pelatih mendekatinya.
“Diputusin cewek, Pak. Bapak bisa menebak juga.” Lanjutnya terus terang.
“Alvin, bapak sudah lama menjadi pelatih disini. Dan setiap ada anak-anak bapak yang hebat bermain kacau, pastilah salah satu dari ketiga alasan tadi yang menjadi penyebabnya.”
Alvin mengangguk.
“Maaf Pak, saya tak akan mengulanginya lagi.” Jawabnya sembari menundukkan pandangan.
“ Tahun ini adalah tahun yang sangat menentukan bagi kita, dan bagi dirimu tentunya. Tak ada alasan yang bisa menghalangimu untuk sukses pada lomba Tilawatil Qur’an di Solo besok. Tapi kau harus ingat, kau harus memusatkan perhatian pada yang benar-benar penting, tentang masa depanmu. Percayalah, kalau kau dan dia ditakdirkan untuk bersatu lagi kelak, pasti kan bersatu lagi. Tuhan yang akan mengatur semuanya. Sudahlah, dia juga mencintaimu kan?. Tak apa-apa untuk sementara.” Jelas sang pelatih.
Alvin tahu pelatihnya benar. Ia harus menang melawan perasaannya. Ia harus gapai impiannya membawa nama baik pesantrennya menjadi juara MTQ tingkat provinsi yang diadakan di Solo minggu depan. Tetapi, ia tetap merasa terluka. Tak ada lagi mentari yang menerangi kelam hatinya.
“ Aku geram, Pak. Tapi aku tak tahu harus memarahi siapa. Aku selalu setia padanya. Aku serahkan segalanya untuknya. Tapi, apa yang kudapat darinya? Apa?...”.Emosinya naik.
Si pelatih mengambil secari kertas dan bolpoin. “Itu pertanyaan bagus, Vin. Apa yang kau dapat darinya?”
Pelatih menyerahkan kertas dan bolpoinnya pada Alvin. “Ingat-ingat waktu yang kau lewatkan bersamanya dan tuliskan sebanyak mungkin hal-hal yang kau alami bersamanya. Yang menyenangkan maupun yang tidak. Lalu, tuliskan hal-hal yang kau pelajari darinya dan yang ia pelajari darimu. Bapak beri waktu satu jam”.
Pelatih meninggalkan Alvin sendirian di ruang latihan. Ia lungkrahkan tubuh kurusnya di kursi. Dan kenangan-kenangan indah bersama Nisa mulai membanjiri ingatannya. Ia ingat saat ia mengatakan cinta pertamanya untuk Nisa. Dan betapa senang hatinya kala Nisa menerima cintanya walau dengan syarat pacaran yang sehat dan sewajarnya. Kalau bukan karena dorongan Nisa, ia tak mungkin mahir dalam tilawah Al Qur’an.
Lalu ia kembali mengingat-ingat saat mereka bertengkar. Ia tersenyum. Sangat pias. Ia memang tak ingat semua penyebab pertengkaran mereka. Entah itu intern atau ekstern. Tapi, ia ingat betul bagaimana mereka menyelesaikan masalah mereka. Mereka yang memulai, maka mereka juga yang harus mengakhiri. Itulah prinsip mereka. Mereka selalu belajar menyelesaikan setiap masalah yang mereka hadapi tanpa menghadirkan emosi. Belajar kompromi, komunikasi, dan saling mengerti. Ia juga ingat bagaimana mereka baikkan kembali. Dan disaat seperti itulah yang sangat disukai mereka. Ia tersenyum lagi.
Alvin ingat saat-saat Nisa membuatnya merasa percaya diri, kuat, dibutuhkan, dan istimewa. Ia menulis kertas itu dengan pengalaman-pengalaman mereka yang indah, liburan bersama sahabat-sahabat terbaik mereka ke Bali, dan masih banyak lagi.
Sebaris demi baris ia goreskan pada secarik kertas itu. Dan pelan-pelan ia menyadari bagaimana Nisa telah membentuk hidupnya, ia akan menjadi laki-laki lain tanpa Nisa.
Saat pelatih kembali sejam kemudian, Alvin sudah tak ada di situ. Tapi, Alvin sudah meninggalkan catatan. Isinya sederhana :
Pak pelatih,
Terima kasih banyak atas pelajarannya. Saya rasa memang benar kata orang-orang bahwa lebih baik pernah mencintai dan kehilangan cinta daripada tak pernah mencintai seseorang. Dan cinta tak harus memiliki. Karena aku sudah memilikinya dalam hati. Sampai ketemu di latihan besok, Profesor cinta, hehe....^^
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 08.40 0 komentar
Label: Damarsantri Edisi 12, Sastra
Jadikan satu
Jadikan satu
oleh Muhammad Fahd Wakhyudin.
jadikan satu
segala yang tertantang
jadikan satu
segala yang kurang
jadikan satu
sagala yang usang
jadikan satu
sagala yang tenang
jadikan satu
segala yang arang
jadikan satu
kita pasti menang
jadikan satu
biar terkenang
satu target
satu misi
satu tujuan
satu semangat
satu kebersamaan
satukan kekuatan kita di ruang wahid hasyim
satukan kita bersatu dalam mewujudkan wahid hasyim yang terbaik.
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 08.37 1 komentar
Label: Damarsantri Edisi 12, Sastra
The Power of Kaum Bersarung (Santri) Seorang santri itu luar biasa dari segi apapun
The Power of Kaum Bersarung (Santri)
Seorang santri itu luar biasa dari segi apapun
[ds/c]
Sebutan santri dalam kalangan orang yang berlatar belakang dari non pesantren atau seseorang yang belum tahu tentang pesantren maka mereka akan mengagap bahwa santri itu katrok atau deso atau yang sebangsa lah, orang yang tidak tahu jaman dan orang yang gaptek. Tapi semua itu menurutku mereka, salah bukan? dan menganggap rendah pada kaum bersarung alias santri itu.
Sekarang aku temukan orang-orang yang sukses dan sekarang jadi orang ternama juga orang yang mempunyai kedudukan, mereka bersal dari pondok pesantren. Sebenarnya banyak pandangan bahwa seorang santri itu luar biasa dari segi apapun.
Dari segi fisik mereka sangat kuat, banyak santri yang puasa tapi tetap bugar. Dari segi psikologi para santri ini mempunyai mental yang kuat optimis dan lebih tahan terhadap cobaan yang menimpa. Dari segi pikiran, mereka lebih kuat dari orang biasa alias yang tidak mondok coba merka harus menghafal pelajaran dari yang gampang ampe yang sulit ada juga yang hafal Al Quran apalagi mereka yang sambil kuliah tau sekolah mereka harus memikirkan dua hal yang sangat di banggakan dalam hidup yaitu ilmu baik dari pesantren maupun dari sekolah formal yaitu ilmu dunia dan ilmu yang membawa kita menuju surga atau neraka.
Baru baru ini aku juga melihat santri yang bisa menjadikan inspirasi hidup saya. Sekarang dia hidup dengan hasil kuliah dan seninya yang didasari oleh ilmu yang dia dapat dari pesantren. Dia pandai acting, nulis dan ciptain lagu, keren banget sih!!!!
Ternyata kaum bersarung sekarang tidak hanya jadi kiayai deso, takmir masjid di desa tapi sekarang jadi seorang yang lebih dari pada orang biasa (non santri ) dan hidup yang dinamakan selamat dunia dan akhirat.
Kaum besrsarung itukan sebutan tuk santri kalau tuk santriwati apa ya...........? kalau menurut aka lebih condong menyebut cewek surga, mengapa ya? mungkin santriwati itu lebih dari cewek biasa, mereka sanggup tuk melakukan kewajiban sebagai wanita, seperti menutupi aurotnya dengan seutuhnya. Dan ada nilai plus lagi bagi santriwati yaitu meningkatkan satu peringkat diatas perempuan biasa apa bila mereka menjadi pilihan untuk menjadi seorang istri. Jelas seorang laki-laki yang tau agama akan memilih seorang istri yang tau agama lebih-lebih tahu tetang kewajiban seorang istri.
Tidak hanya dalam hal sebagai pilihan santriwatipun akan dapat memilih sesosok orang yang pantas jadi pemimpin rumah tangganya kelak dengan ilmu yang di dapatkan dari pesantren. [ds/c]
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 08.34 0 komentar
Label: Artikel, Damarsantri Edisi 12
Bahagia Dan Sukses Dunia Akhirat Ada Ditangan Anda
Bahagia Dan Sukses Dunia Akhirat Ada Ditangan Anda
Oleh Habib Shulton Asnawi
Faidzaa faraghta fanshab
Ustadz-ustadzah maupun santri putra dan santri putri WH (wahid hasyim) yang dimulyakan oleh Allah yang berbahagia dan yang saya banggakan….
Di dalam al-Qur’a>n sebagaimana ayat yang tercantum diatas Allah Swt berfirman yang artinya : Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan), maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. [Q.S. Alam Nasyrah:7].
Ayat diatas mengandung pelajaran yang sangat penting bagi kita, khususnya untuk temen-temen santri putri WH yang hendak memilih pasangan hidupnya, he,he,he.
Temen-temen santri putra maupun santri putri WH yang berahagia.
Banyak sekali orang menjalani hidup secara natural tanpa pernah merencanakan masa depannya secara matang. Proses hidup yang natural ini tentu tidak salah dan saya juga tidak mengatakan bahwa proses hidup yang natural itu salah ”tidak”. Apalagi jika menilik bahwa perputaran roda kehidupan itu telah ada yang mengaturnya. Atau dalam pepetah Jawa mengatakan ”urip iku mung sak dermo nglakoni” artinya bahwa hidup itu hanya sekedar menjalani saja, dengan arti yang lebih luas bahwa hidup ini tidak perlu difikir susah-susah karena kita tinggal menjalani saja, ada juga yang mengatakan ”kenapa harus merencanakan masa depan jika masa depan, kebahagiaan dan kesuksesan kita sudah ada yang mengaturnya”.
Namun juga tidak salah jika perputaran roda kehidupan ini kita rencanakan secara matang. Mengapa ?? karena banyak sekali faktor yang tak terduga, bahkan diluar jangkauan pemikiran kita yang muncul kala kita menjalani kehidupan ini. Atau dalam bahasa yang sederhana, hidup yang kita rencanakan dengan sangat matang saja hasilnya sering tidak sesuai dengan yang kita rencanakan. Lalu bagaimana jika hidup hannya sekedar mengikuti arus, tanpa pernah ada rencana atau rekayasa untuk merubahnya. Nah, inilah yang menjadi PR kita bersama. Detik ini juga kita wajib memikirkan, merencanakan dan merekayasa perputaran roda kehihidup kita, supaya hidup yang kita rencanakan sesuai dengan harapan kita yaitu bahagia dan sukses duania akhirat, namun jika ikhtiar atau usaha kita tidak sesuai dengan harapan kita, kita tidak perlu kecil hati. H. Muammar ZA (Qori’ Internasional 1981) berkata bahwa ”ikhtiar atau usaha itu wajib hukumnya namun hasil dari suatu ikhtiar hasil dari suatu itu tidak wajib hukumnya.”
Temen-temen santri putra maupun santri putri WH yang saya banggakan.
Perencanaan hidup kita itu sangat penting karena dalam diri manusia tersimpan berbagai macam potensi. Potensi yang jika mau mengolahnya dan memanfaatkannya akan menghasilakan sesuatu yang sangat luar biasa. Suatu hasil yang bahkan melebihi yang kita rencenakan sebelumnya.
Dalam konteks inilah saya mengambil ayat al-Qura>n sebagai mana yang tertulis di atas. Bahwa ayat 7 surah alam-Nasyrah ini memberi petunjuk kepada kita bahwa seseorang harus selalu memiliki kesibukan. Apabila telah berahir dari suatu pekerjaan ia harus memulai lagi dengan pekerjaannya yang lain atau memulai pekerjaan yang baru, sehingga dengan ayat ini seorang muslim tidak akan pernah menyia-nyiakan waktunya.
Diriwayatkan bahwa Sayyidina> ’Umar Ibnu al-Khatab ra. Bernah berkata: ”Saya benci melihat salah seoarang dari kalian menganggur, tidak melakukan sesuatu pekerjaan yang menyangkut kehidupan dunianya, tidak pula kehidupan akhiratnya.”
Kataفارغب Fa-rghab dalam surah alam-Nasyrah ayat 7 diatas yang artinya bahwa ”Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan)”, kemudian baru dilanjutkan dengan kata فانصب Fa-nshab ”maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”. ”. inti dari surah alam-Nasyrah ayat 7 diatas yaitu mengajarkan bahkan menganjurkan kepada kita, agar kita harus mempunyai Jiwa Etos Kerja Yang Tinggi.
Sambungan dari Halaman 5...
Etos kerja tinggi artinya adalah kesemangatan untuk selalu bekerja-bekerja dan bekerja dimanapun tempatnya dan kapanpun waktunya, ayat diatas mengajarkan kepada kita agar kita tidak menganggur atau berdiam diri, ayat diatas mengajarkan kepada kita untuk selalu berkreatifitas atau mencari kesibukan dalam kebaikan. Oleh karena itu ayat diatas mengatakan”Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan)”, artinya bahwa setelah kita menyelesaikan suatu pekerjaan, kita dilarang untuk berhenti atau menganggur, kita dilarang untuk jangan merasa puas dari apa yang telah kita lakukan, kemudian dilanjutkan dengan ayat selanjutnya yang menyatakan bahwa ”maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”. yang artinya bahwa kita harus melanjutkan atau menciptakan pekerjaan selanjutnya yang baru atau berkreatifitas yang baru.
Temen-temen santri putra maupun santri putri yang berbahagia. Di negara indonesia dan negara-negara besar lainya, khususnya daerah kota-kota besar sangat banyak sekali manusia-manusia setres, struck dan penyakit berat lainnya. Mengapa demikian? karena PHK dimana-mana, seseorang yang tidak memiliki jiwa etos kerja yang tinggi apabila terPHK maka dia akan binggung dan setres, karena dia tidak faham apa yang harus dilakukannya untuk mengganti pekerjaanya yang telah hilang. Orang yang tidak mempunyai jiwa etos keja tinggi dia akan selalu tergantung dengan penghasilan tetap perbulannya dan apabila hasil dari pendapatan perbulannya itu dicabut atau hilang, maka dia akan mengalami ganguan jiwa dan akan mengalami setres, dan tidak jarang seseorang ketika dia tidak tahan dengan kondisi seperti ini maka dia akan mengakhiri hidunya dengan cara bunuh diri. Wah mengerikanya?? He,he.
Tapi berbeda dengan orang yang mempunyai jiwa etos kerja yang tinggi, seseorang yang memunyai jiwa etos kerja yang tinggi pabila dia terPHK dia tidak akan mengalami setres atau binggung, karena apa? Karena dia mempunyai jiwa otos kerja yang tinggi, artinya dia tidak tergantung dengan hasil perbulannya, dan apabila gaji atau hasil perbulannya hilang atau dicaut maka dia tidak akan pernah binggung apalagi setres, karena dia selalu mempunyai ede-ide baru untuk berkreatifitas atau untuk menciptakan lapangan usaha yang baru. Semangat bekerja selalu tumbuh.
Saya pernah bertanya kepada salah satu teman saya dia seorang perempuan yang masih gadis, saya bertanya begini... Mbak,,,Kalau mbak ingin cari calon seorang suami, calon suami yang seperti apa mbak?? Mbak itu menjawab ”Seorang suami yang mempunyai gaji atau pengahasilan yang tetap mas ”
Jawaban mbak yang saya tanya tadi secara harfiah tidak ada yang salah, mbak tersebut mendambakan seoarang pendamping hidup atau calon suami yang telah mempunyai penghasilan tetap. Namun jawaban mbak tadi menurut saya kurang pas, mungkin supaya lebih sedikit pas begini,,, ”Saya mendambakan calon suami yang mempunyai jiwa etos kerja yang tinggi mas”... Saya berpesan kepada mbak, mbak sebagai calon isteri harus waspada karena sangat berbahaya jika calon suami anda sudah tidak punya penghasilan tetap ditambah tidak mempunyai jiwa etos kerja tinggi lagi. Ini sangat berbahaya.
Logikanya jika calon suami anda mempunyai gaji tetap, artinya tetap perbulannya, maka gajinya akan tetap terus, kalau satu bulannya hanya 1 juta maka perbulannya hanya 1 jutaaaaaaa terus, tidak ada perubahan atau kenaikan sama sekali, rekan kerjanya sudah naik gaji calon suami anda masih tetaaaaaap saja. Karena dari niat awalnya saja sudah tetap, jadi ya tetaaaaaap terus. Karena mbak yang saya tanya tadi menjawab ”mendambakan calon seorang suami yang gajinya atau penghasilan tetap”, kalau mbak yang saya tanya tadi menjawab ”mendambakan calon seorang suami yang mempunyai jiwa otos kerja yang tinggi”, maka persoalannya sudah lain lagi. Mbak harus waspada, karena sangat berbahaya jika calon suami sudah tidak mempunyai pekerjaan atau gaji yang tetap, ditambah dengan tidak mempunyai jiwa etos kera yang tinggi. Ini sangat berbahaya untuk masa depan anda dan putra-putri anda.
Mbak-mbak ustadzah atau santri putri WH yang saya banggakan.
Ini semua setidaknya bisa menjadi renungan. Artinya jika mbak hendak mencari seorang calon suami haruslah berfikir cecara matang dan terencana secara strategis dan sistematis, siapa yang kiranya layak dan pas untuk dijadikan pemimpin keluarga, calon suami yang mempunyai gaji tetap atau calon suami yang mempunyai jiwa etos kerja yang tinggi. Karena ini semua ada integrasi dan interkoneksinya untuk masa depan yaitu hidup bahagia dunia akhirat. Ini kelihatanya sepele tapi jika salah merencanakan atau bahkan tidak direncanakan atau tidak direkayasa, maka akibatnya akan fatal mbak... Karena menyangkut keahagiaan dan kesuksesan hidup anda didunia maupun akhirat kelak, dan keputusan anda itu sangat menayangkut keahagiaan anda sendiri dan putra-putri anda kedepannya nanti. Oleh karena itu kunci sudah ada pada diri anda dan sudah anda pegang artinya kunci sudah ada ditangan anda, tinggal anda membuka pintu yang mana yang hendak anda pilih dan anda buka.
Jika calon suami mbak mempunyai jiwa otes kerja yang tinggi selain dia mempunyai penghasilan tetap perbulannya dan suami anda setelah pulang dari kantor atau setelah selesai dengan pekerjaannya dan setelah sampai dirumah, maka suami mbak tersebut akan selalu mempunyai gagasan atau ide-ide baru untuk melakukan pekerjaannya yang baru lagi, guna untuk menambah penghasilannya. Seorang yang mempunyai jiwa etos kerja tinggi, dia akan selalu berfikir bagaimana caranya agar penghasilannya bertambah-bertambah dan bertambah. Ini bukan duniawi mbak, sekali lagi ini bukan duniawi. Tapi al-Qura>nlah yang menganjurkan dan mengajarkan kepada kita semua supaya mempunyai jiwa etos kerja yang tinggi. Seseorang yang mempunyai jiwa etos kerja tinggi maka kekayaanlah yang akan dia peroleh, dengan kaya kita bisa menyantuni fakir miskin dan anak yatim, membangun masjid, pondok pesantren mendirikan panti asuhan, rumah sakit dan lain-lain. Kalau sudah begini maka, potensi masuk Syurga terbuka besar dan lebar..Amin amin amin.
Seseorang yang tidak mempunyai etos kerja tinggi maka kekurangan dan kemiskinanlah yang akan menghampirinya. Dengan kemiskinan maka seseorang tersebut tidak akan bisa berbuat apa-apa, maka potensi masuk Syurga sangatlah kecil dengan kemiskinan tersebut maka potensi kemaksiatan akan terbuka lebar dan ketika sudah maksiat maka potensi masuk Nerakapun juga lebar
Ciri-ciri seorang yang tidak mempunyai etos kerja tinggi adalah setelah dia melakukan suatu pekerjaannya dia merasa puas dan setelah selesai dengan pekerjaannya seseorang tersebut tidak melanjutkan dengan pekerjaannya yang baru (nganggur) karena dia sudah merasa puas dengan apa yang telah dikerjakannya, merasa telah berjasa. Banyak mahasiswa/wi setelah kuliah 2 SKS saja sudah merasa puas dan merasa mengerjakan pekerjaan yang berat dan berjasa. Padahal al-Qur’a>n memerintahkan kepada kita setelah selesai dengan pekerjaan yang telah kita lakukan maka kerjakanla pekerjaan yang lain dengan sungguh-sungguh. Supaya kita tidak merugi. Di dalam al-Qur’a>n dikatakan bahwa pada dasarnya manusia itu dalam kerugian (menganggur) terkecuali orang-orang yang bersungguh-sungguh (semangat bekerja) atau (tidak menganggur).
Oleh sebab itu, kita sebagai seorang muslim marilah kita bersama-sama mengamalkan apa yang diperintahkan oleh al-Qur’a>n. Salah satu contohnya adalah ayat diatas. Apaila kita sebagai seorang muslim mengamalkan ayat diatas dan kita implimentasiakan didalam kehidupan kita sehari-hari, maka kita akan menjadi manusia sempurna (insan kamil). Sempurna sepiritual (sempurna hubungan dengan Allah) dan sempurna imaterial (kaya raya dan sempurna beramal shaleh kepada sesama manusia) dengan kata lain (hidup kaya-mati masuk Syurga). Amin amin amin. Dari uraian diatas dapat kita ambil kesimpulannya bahwa:
a. memilih calon suami harus secara hati-hati dan terencana secara matang, bila perlu calon suami anda harus telah mempunya sertifikat resmi JIWA OTOS KERJA TINGGI.he,he.he. Untuk menumbuhkan jiwa etos kerja tinggi itu harus dimulai dari sekarang. Memang berat, tapi jika sudah menjadi kebiasaan semuannya akan terasa ringan.
b. karena sudah selayaknya seorang laki-laki atau seorang suami yang mempunyai tanggung jawab besar terhadap keluarga maka mempunyai jiwa etos kerja tinggi itu lebih diprioritaskan bagi seorang laki-laki karena seorang suamilah yang bekerja untuk mencari nafkah. Yang menafkahi isteri dan anak-anak mereka.
c. kunci bahagia hidup dunia akhirat ada ditanggan anda khusunya ada di tangan seorang perempuan (saya katakan ada ditangan perempuan tapi dalam ranah memilih) dalam arti bahwa seorang perempuan harus panda-pandai meilih calon pendamping hidupnya, karena seorang suami yang ideal seperti diatas, akan bisa menjamin memahagian anda dan putra-putri anda.
Jika semua tercukupi keahagiaanlah yang akan anda dapat, bahagia dunia dengan beramal shaleh maka bahagia akhirat akan anad dapat. Kuncinya ada ditangan anda mbak. Pintu sudah ada dihadapan anda, anda tinggal memilih pintu yang mana yang hendak anda buka. Penuh dengan kehati-hatian namun juga jangan ragu-ragu.
d. untuk santri putra atau ustadz atau mas-mas WH berhati-hatilah, karena mbak-mbak WH setelah membaca ini maka mbak-mbak WH akan berpikir 2X untuk memilih siapa yang akan dijadikan pendamping hidupnya. Oleh kerena itu khususnya saya pribadi mengajak temen-temen putra semua marilah kita melekukan apa yang dipesankan oleh al-Qur’a>n seperti yang tertulis diatas. Demi keahagiaan dan kesuksesan hidup didunia maupun hidup diakhirat nanti. Oleh karena itu kunci kebahagiaan dan kesuksesan hidup didunia dan hidup diakhirat semuanya ada ditanggan kita.
e. yang terakhir. PR bagi santri putra/ustadz atau mas-mas. Tumbuhkanlah dan tanamkanlah dalam diri anda jiwa etos kerja yang tinggi. Dan PR untuk santri putri/ustadzah atau mbak-mbak berhati-hatilah untuk memilih pendamping hidup. Pilihlah calon suami yang mempunyai jiwa etos kerja yang tinggi.......Alhamdulillahi rabbil ’alamin...
Wallahu a’lam bishshawab.
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 08.28 0 komentar
Label: Artikel, Damarsantri Edisi 12
Cermin tanpa melihat sendiri noda itu, bagaimana kita tergerak menghilangkannya?
Cermin
tanpa melihat sendiri noda itu, bagaimana kita tergerak menghilangkannya?
oleh Riyu Al-Hikmah
Kalau kita ingin melihat wajah kita sendiri, biasanya kita berdiri dengan kaca ajaib yang lazim disebut cermin. Dari cermin itu kita bisa melihat dengan jelas apa sja yang ada di wajah kita, baik yang menyenangkan atau yang tidak, bahkan mungkin yang membuat kita malu.
Dengan cermin kita mematut-matut diri. Hampir setiap kamar dalam asrama kita selallu memiliki cermin, karena hampir semua orang ingin dirinya patut. Tanpa bercermin kita tidak bisa melihat sendiri noda yang ada pada diri kita. Dan tanpa melihat sendiri noda itu, bagaimana kita tergerak menghilangkannya?.
Seperti kita ketahui, melihat orang lain lebih mudah dan jelas ketimbang melihat diri sendiri. Marilah kita lihat orang lain, kita lihat aib-aib dan kekurangan-kekurangannya, lalu kita rasakan respon diri kita sendiri terhadap aib-aib dan kekurangan orang lain itu.
Mengapa perlu dibuat peraturan?
Teman-teman, mengapa dibuat peraturan yang sedemikian rupa sehingga … dan membuat kita merasa terjepit dan terjebak dalam lingkungan pondok yang kadang kita pun tidak mau mengakuinya bahwa kita hidup di kost Wahid hasyim.
Peraturan itu dibuat untuk kita sendiri, untuk kepentingan sendiri, untuk kebaikan kita sendiri. Masuk zona Weha berarti harus memenuhi aturannya tanpa terkecuali, pun dengan resiko dan konsekuensi yang sudah kita pilih. Apapun itu.
“Pernahkah terpikirkan jika peraturan semakin ketat, berarti di mata kereka perilaku kita masih kurang baik dan kurang memenuhi syarat sebagai mar’ah al-jamilah”.
Kita kadang merasa jengkel, muak, atau tidak suka dengan peraturan-peraturan tetek-bengek tersebut. Apa pun alasannya. Seolah-olah kita ingin menghujat mereka (si pembuat peraturan), karena mereka adalah teman-teman kita.
Kemudian marilah kita andaikan kawan-kawan kita itu dan kita adalah mereka. Apakah kira-kira mereka juga jengkel, muak, atau minimal tidak suka melihat peraturan yang dibuat kita? Kalau jawabnnya tidak, pastilah salah satu dari kita atau mereka yang tidak normal.
Cobalah kita berkaca sejenak
Pernahkah terpikirkan jika peraturan semakin ketat, berarti di mata kereka perilaku kita masih kurang baik dan kurang memenuhi syarat sebagai mar’ah al-jamilah. Marilah kita bercermin untuk mempercantik diri kita baik dari yang terlihat maupun yang tidak bisa kita lihat, tetapi bisa terlihat oleh orang lain.,[]
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 08.23 0 komentar
Label: Artikel, Damarsantri Edisi 12
Middle East & Egypt Sebelum dan Sesudah Islam 500 AD – 1000 AD
Middle East & Egypt Sebelum dan Sesudah Islam
500 AD – 1000 AD
Oleh M. Zaki Mubarok & [ds/f]
Agama Islam lahir di semenanjung Arabia,di Negara arab Sauditepatnya di kota makkah al-mukaromah pada abad ke -6 yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW. Lahir pada hari senin, shubuh 12 Rabiulawal / 20 April 571M yand dikenali sebagai tahun gajah,yaitu peristiwa penyerangan tentara abrahah ke kota makkah. Abad 1 H adalah awal lahirnya Islam. Kondisi masyarakat arab sebelum kedatangan Islam masih bersifat jahiliyah (zaman kebodohan),yang dikuasai oleh 2 suku besar quraisy yaitu suku aus dan kharaj yang saling bermusuhan.
Dua suku ini dapat dipersatukan setelah datangnya agama Islam. pada Islam berkembang pesat dalam segala aspek ekonomi, politik, sosial, budaya, kesenian,dan militer. Sebelum agama Islam lahir terdapat 2 kerajaan besar, yaitu Romawi dan Persia, yang sangat mendominasi kekuasaan pada saat itu, tidak hanya sebatas pada jazirah arab saja tetapi hampir seluruh benua eropa.
Agama islam mudah diterima di masyarakat karena Islam rahmatan lil alamin dan cinta damai, idak seperti 2 kerajaan sebelumnya yang menerapkan system pajak (jizyah) yang memberatkan bagi pemeluknya yang notabenya beragama Kristen ortodoks. Wilayah kekuasaan Islam pada awal kemunculanya meliputi wilayah syam, syiria, abbesynia (Ethiopia),dan hampir seluruh jazirah Arab.
Penaklukan wilayah ini memerlukan waktu yang cukup singkat, dan berbeda-beda caranya. Ada yang cukup melalui diplomasi damai, maupun dengan jalan pertempuran. Setelah rasulullah SAW wafat, pimpinan Islam diambil alih oleh para khalifah (khulafaur Rasyidin). Dalam melakukan beberapa perluasan wilayah (invasion of area). Terjadi beberapa pertempuran besar, diantara lain perang mut’ah, yarmuk, dan nahawand, yang kesemuanya dimenangkan oleh pasukan islam dengan gemilang. Setelah masa pemerintahan khulafaur Rasyidin,muncul kerajaan islam yaitu dinasti Umayyah yang berkedudukan di Damaskus.
Kekhalifahan Umayyah, adalah kekhalifahan Islam pertama setelah masa Khulafaur Rasyidin. Dinasti ini memerintah dari tahun 661 sampai 750 di Jazirah Arab dan sekitarnya; serta dari 756 sampai 1031 di Kordoba, Spanyol. Nama dinasti ini diambil dari nama tokoh Umayyah bin 'Abd asy-Syams, kakek buyut dari khalifah pertama Bani Umayyah, yaitu Muawiyyah I.
Penaklukan wilayah ke Andalusia (spanyol) terjadi pada tahun 711 M, yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad dengan kekuatan 7000 tentara atas persetujuan gubernur afrika utara, Uqbah bin Nafi melalui selat Jabal Thariq (Gibraltar) untuk melawan kezaliman raja Roderick (West Gothic). Dalam invasi ini Goth barat menyerah kepada isLam, pihak Kristen juga membantu Islam dalam melakukan penyerangan terhadap kekuasaan Goth, yang dipimpin penguasa Kristen Andalusia, yaitu Graf Julian, dan Witiza. Setelah dapat menguasai seluruh wilayah spanyol Islam membangun pemerintahan baru berdasarkan distrik, iantaranya Zaragoza, Toledo, Barcelona, Sevilla, Almeria, Kordoba,dan Granada.
Setelah dinasti umayyah bekuasa, muncul dinasti abbasyah /Bani Abbasiyah atau Kekhalifahan Abbasiyah (Arab: العبّاسدين, al-Abbāsidīn) adalah kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Bagdad (sekarang ibu kota Irak). Kekhalifahan ini berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan tradisi keilmuan Yunani dan Persia. Kekhalifahan ini naik kekuasaan setelah mengalahkan Bani Umayyah dari semua kecuali Andalusia.
Bani Abbasiyah dibentuk oleh keturunan dari paman Nabi Muhammad yang termuda, Abbas. Dinasti ini juga melakukan ekspansi, diantaranya Asia, kota Malatia, wilayah Coppadocia, Cicilia pada tahun 756-758 M. pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosphorus, Kaukasus, Daylami di laut Kaspia, Turki di bagian lain Oksus dan India.
Kairo yang terletak di delta Sungai Nil telah didiami manusia Mesir Kuno sejak tahun 3500 SM. Mesir Kuno sempat mencapai kemakmuran di bawah penguasa Zoser, Khufu, Khafre, Menaure, Unas dan lainnya. Di masa itu, ibukota Mesir Kuno itu sudah menjadi salah satu kota yang berpengaruh di dunia. Sejak 30 SM, Mesir dikuasai bangsa Romawi. Kekuasaan Romawi di Mesir akhirnya tumbang ketika Islam menjejakkan pengaruhnya pada tahun 641 M. Adalah pasukan di bawah komando jenderal perang Muslim, Amar bin Al-Ash yang pertama kali menancapkan pengaruh Islam di Mesir. Saat itu, Amar bin Al-Ash justru menjadikan Fustat - kini bagian kota kairo sebagai pusat pemerintahannya.
Said bin Husain, seorang muslim Syiah dari dinasti Fatimiyyah yang mengaku bahwa anak perempuannya adalah keturunan Nabi Muhammad, mengklaim dirinya sebagai Khalifah pada tahun 909, sehingga timbul kekuasaan ganda di daerah Afrika Utara. Pada awalnya ia hanya menguasai Maroko, Aljazair, Tunisia dan Libya. Namun kemudian, ia mulai memperluas daerah kekuasaannya sampai ke Mesir dan Palestina, sebelum akhirnya Bani Abbasyiah berhasil merebut kembali daerah yang sebelumnya telah mereka kuasai, dan hanya menyisakan Mesir sebagai daerah kekuasaan Bani Fatimiyyah. Dinasti Fatimiyyah kemudian runtuh pada tahun 1171.[]
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 08.19 0 komentar
Label: Damarsantri Edisi 12, Fokus
I do not care (gak pantas untuk anak jalanan )
I do not care (gak pantas untuk anak jalanan )
[ds/c],
Apakah kata-kata itu selalu keluar dari orang-orang yang lewat dijalan?
Padahal mereka membutuhkan pemberian kita dan harapan yang besar terhadap kita, mereka juga punya cita-cita mereka sebenarnya juga tak mau seperti itu, ingin berhasil meraih apa yang di cita-citakan dari kecil!
Suatu hari aku terpana melihat seseorang yang tak canggung berbincang-bincang dengan mereka, Wanita muda itu keluar dari mobil Jazz merah sambil membawa tas plastik berisi makanan dan membawa beberapa buah buku dan menghampiri para anak jalanan itu, dia memberikan makanan kepada mereka dan buku bacaan cerpen dan buku pelajaran, wanita itu mengajarkan sesuatu sambil bercanda dengan riang anak-anak itu pun tertawa dengan senangnya.
Setelah itu dia tidak hanya mengajarkan dari buku pelajaran itu sendiri, dia belajar menyanyi dan kesopanan, hari itu aku ingat terus hampir setiap kali aku lewat jalan itu aku pasti berhenti dan melihat wanita kaya, cantik dengan mobil Jazz yang merah itu bergurau dengan anak-anak jalanan.
Ternyata ada ya orang sebaik itu dan tidak membedakan perbedaan yang sangat mencolok itu seorang kaya dengan anak jalanan???? Apakah sekarang kita diam saja dan berkata “ I do not care “ Orang yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar??? selalu negatif dalam memadang mereka? Apakah kita pernah berfikir apa yang sedang mereka fikirkan di pinggir jalan.
Tulisan diatas sangat sederhana. (sesederhana inikah tulisan di damarsantri?) Tidak, lebih dari itu. Ada sebuah pertanyaan yang akan kita tarik: Apakah kata-kata itu yang selalu menjadi refleksi cara berfikir kita?
Pernahkah berfikir bagaimana adek-adek kita ketika gede nanti tidak bisa membaca Al Qur’an (ke TPA ya...). Atau terkait kebersihan, atau terkait bagaimana menjaga nama baik Pondok Pesantren ini, atau terkait keamanan dan ketertiban, atau terkait apapun. Apakah sekarang kita diam saja dan berkata “ I do not care ” [ds/c]
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 08.17 0 komentar
Label: Damarsantri Edisi 12, Essay
Memanusiakan Pahlawan
Memanusiakan Pahlawan
“Pahlawan tak pernah dilahirkan, tapi diciptakan”
oleh Aufannuha Ihsani
Bagaimana seorang pahlawan menjadi pahlawan? Dalam kisah-kisah Mahabharata, misalnya. Kita membaca sosok Gatotkaca yang ajal di angkasa, Irawan yang mati sebab lehernya dipatahkan oleh Srenggi, atau Abimanyu yang terpenggal kepalanya sehabis tubuhnya bersimbah darah. Adakah mereka semua pahlawan? Jika demikian, pahlawan mesti tewas sebelum dianugerahi gelar itu. Dan sebuah definisi kemudian akan berangkat dari orang-orang yang telah mangkat.
Agak menggelikan sebenarnya, bahwa pahlawan harus mati terlebih dahulu. Dalam Keputusan Presiden tahun 1964, tertulis bahwa yang disebut pahlawan adalah orang-orang yang, meski telah berjuang bagi bangsa dan negaranya, harus tidak melakukan perbuatan yang menjadikan cela bagi perjuangannya dahulu. Kemudian dengan ini kita melihat bahwa pahlawan adalah orang-orang yang suci, yang terhindar dari segala macam nista. Dan karena itulah Bung Tomo bukan “pahlawan” di masa Orde Baru..
Namun siapa tak kenal Bung Tomo, entah lewat pelajaran SD atau novel Surabaja karangan Idrus itu? Sang agitator itu begitu membara sebelum pertempuran pecah pada 10 November. Kita ingat akan sepenggal pidatonya, yang seakan selalu membuat bergidik jika dibacakan:
“Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah, yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga!”.
Ia tahu ia akan kalah, ia tahu persenjataan musuh lebih berat, dan ia sadar, yang dimilikinya hanya semangat. Seorang pahlawan, siapa pun dirinya, akan merasa gamang di satu sisi, entah pada kemenangan atau kekalahan, sementara di sisi yang lain, pada perjuangan yang belum tuntas, yang mesti diselesaikan. Terlepas adakah selebihnya, setelah perjuangan itu, hanya diam, pada akhirnya pahlawan akan memilih sisi yang kedua.
Siapakah yang menjadikan pahlawan seorang pahlawan, saya bertanya. Kita, yang menyontohnya sebagai teladan, atau para penguasa? Bung Tomo baru “resmi” jadi “pahlawan” pada tahun 2008, itu pun atas desakan Gerakan Pemuda Ansor dan Fraksi Partai Golkar kepada presiden SBY.
Sementara, yang kita tahu, bahwa hari Pahlawan yang ditetapkan tanggal 10 November itu, yang Bung Tomo sendiri ikut andil besar di dalamnya, diperingati sudah sejak lama. Ironiskah? Bung Tomo hanya melakukan satu kesalahan: ia bertindak sebagai oposisi pada rezim Soeharto. Ia dipenjara pada tahun 1978, dan setelah kematiannya pada 1981, kita kembali merenungkan apa-apa yang telah diperjuangkannya.
Maka saya pikir Zen Rs benar: “Pahlawan tak pernah dilahirkan, tapi diciptakan”. Kita pernah menonton film Enemy at the Gates itu, ketika Nikita Khrushchev bertanya pada para petugas politik di front depan di Stalingrad, apa solusi terbaik bagi para Tentara Merah. Seseorang angkat bicara, namanya Danilov. “Kita,” katanya, “butuh seorang pahlawan….”. maka dipilihlah seorang serdadu dari divisi sniper bernama Vasilli Zaitsev. Seolah artis, nama seorang serdadu itu meroket dan dibacakan pada tiap apel pagi. Ia terkenal. Tapi Vasilli kemudian sadar, bahwa bukan hanya dirinya yang pahlwan. Semuanya, semuanya juga pahlawan: para serdadu yang tewas, petugas-petugas yang menerjemahkan sandi-sandi rahasia musuh, atau bahkan rakyat sipil yang dijarah. Semuanya pahlawan. Ia merasa menjadi seseorang yang mengingkari para pahlawan tadi dengan ketenaran namanya.
Barangkali, kita butuh Vasilli Zaitsev, sebab Indonesia saat ini adalah Sovyet zaman dahulu. Bedanya, kita tidak berada pada masa genting peperangan. Maka, jangan kaget seandainya nanti ada “pahlawan-pahlawan” baru dari para penguasa. Para pahlawan yang asing, yang tak pernah kita dengar namanya sebelumnya. []
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 08.12 0 komentar
Label: Damarsantri Edisi 12, Opini
Sebuah Coretan tentang Cinta
Sebuah Coretan tentang Cinta
oleh Shela
Bismillaahirrohmaanirrohiim….
Apakah Anda pernah jatuh cinta? seperti apa rasanya? tolong beritahu aku…
Apakah jantung Anda akan berdegup sangat kencang jika bertemu atau memikirkan seseorang? Ataukah tangan dan kaki Anda berkeringat dingin ketika hanya bertemu, melihat atau mendengar suaranya? begitukah cinta yang anda rasakan…?
Cinta, kegelisahan yang menyenangkan, kerinduan yang mendalam, selalu teringat akan kekasih, bernyanyi tentang lagu-lagu cinta. Sangat banyak syair-syair lagu yang berisi tentang cinta. Namun, apakah kita sudah benar-benar tau apa itu cinta?
Erich fromm dalam The Art of Loving-nya menyatakan:
Immature Love say, “I Love You, because I need You”, Mature love say,” I Need You, because I Love You”.
Disini Erich Fromm membahas tentang kedewasaan cinta. Cinta yang tidak dewasa hanya mencintai karena membutuhkan. Jadi dia mengharapkan imbalan. Cinta yang seperti ini juga disebut Having Mode atau modus memiliki.
Sedangkan cinta yang dewasa, dia mencinta dengan tulus tanpa mengharapkan balas jasa dari orang yang dicintai. Cinta disini bersifat bebas dan membebaskan tanpa tekanan. Cinta ini telah beranjak dari cinta yang penuh cemburu ke cinta yang penuh bahagia dan mendamaikan.
Obyek cinta disini bukan lagi sebuah barang yang harus dimiliki yang akan menyiksa obyek maupun subyek. Namun, cinta ini adalah cinta yang penuh dengan akal sehat, membahagiakan, memberikan inspirasi, memberikan kekuatan, dan akan selalu memberikan kedamaian bagi kehidupannya. Meskipun obyek cinta itu berada jauh atau bahkan tak terjangkau, cinta itu tetap membuat hidupnya bahagia.
Cinta itu damai dan mendamaikan. Kebahagiaan dalam cinta bukan dalam hal memiliki obyek cinta tapi cukup dengan merasai cinta itu sendiri. Dia hanya cukup bahagia dengan perasaan cinta yang ada dalam hatinya tanpa ada tuntutan untuk memiliki dan adanya kehadiran sang cinta disisinya.
Indahnya cinta menurut Habiburrahman El-Shirazy dipaparkan dalam novel Ketika Cinta Bertasbih-nya:
Cinta adaah ketaatan dan kepatuhan
Dan cinta bukanlah kemaksiatan
Cinta adalah keindahan
Cinta adalah kelembutan
Dan cinta adalah kebaikan-kebaikan
Bukan keburukan-keburukan
Cinta adalah burung perdamaian
Duta langit untuk kehidupan bumi
Yang memancarkan kasih sayang
Kelembutan, kearifan, dan kebajikan
Muara bagi segenap keluhuran
Sungguh indah cinta. Begitu tulus cinta. Begitu luhurnya cinta, begitu sucinya cinta,
Bahkan sahabat nabi Muhammad saw berpendapat:
“ Barangsiapa bercinta dengan kelembutan dan menjaga kerahasiaan cintanya, lantas meninggal, maka dia meninggal dalam kedaan syahid”
Tidak ada kata yang mampu memaparkan apa itu cinta kecuali cinta itu sendiri. Cinta itu sangat kompleks. Begaimana pendapatmu tentang cinta...? buatlah sendiri dalam hatimu makna cinta itu….kau kan bahagia dengan CINTA-mu…SELAMAT MERASAKAN CINTA….
Karena itu,mencintailah dengan senyuman….
Salam PEACE n LOVE……
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 07.39 0 komentar
Label: Damarsantri Edisi 12, Sastra
Damarsantri Masih Seperti yang Dulu
Damarsantri Masih Seperti yang Dulu
#Seribu Inspirasi. Seribu Satu Inspirasi. #Karena Kreatif itu Damarsantri!
Damarsantri berubah ya, tampilannya jadi gede. Karena sekarang kita make kertas A3. Di banyak segi kita memang lagi fokus ke perbaikan-perbaikan. Target pengembangan jadi kita hentikan. Salah satu dampaknya Laboratorium Damarsantri (Secara online beralamatkan http://labs-damarsantri.blogspot.com) dan sekian draft target pengembangan harus dihentikan untuk fokus ke perbaikan. Percaya deh! Kita punya target agar membawa DS selalu lebih baik.
Tempat-tempat kreatif DS kita maksimalkan dulu. DS Breaking News adalah inovasi baru. Itu ide cerdas!. Banyak lah yang kita perbaiki dari sistem pengiriman artikel hingga terakhir layout DS. Fresh kan dengan gaya baru?
Email bulan ini sangat sedikit. Pengiriman artikel sudah mulai terbiasa secara manual. Itu artinya: kita berhasil!!!. Ini yang kita inginkan. Disatu sisi emang tidak keren tapi sisi yang lain DS lebih berwarna dengan banyak santri yang terlibat didalamnya.
Buat segenap staf redaksi DS: “masih banyak waktu”. Buat temen-temen Oswah: DS selalu di pihak Oswah. Buat saudara DS: UKSH, kita kan bersaudara?. Buat yang semangat nulis di DS, pembaca setia DS, makasih! Kalian semangat kami.
DS, adalah inspirasi. #Seribu inspirasi. Seribu satu inspirasi.
Salam, redaksi yang baik hati.
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 07.31 2 komentar
Label: Damarsantri Edisi 12, Editorial

