Semut, Laba-laba dan Lebah (Kewan opo kuwi??)
oleh Mas Kurniawan el-Jabal
Bukan sembarang hewan lho, tiga binatang kecil itu menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Quran yang sering kita baca, yaitu Al-Naml (semut) Al-Ankabut (laba-laba), dan Al-Nahl ( lebah).
Coba kita perhatian semut (tapi jangan sampe dia tau,ntar dianya malu),Semut menghimpun makanan sedidkit demi sedikit tanpa henti-hentinya.Konon,(konon lho ya)binatang kecil ini dapat menghimpun makanan untk bertahun-tahun,padahal usianya tidak lebih dari satu tahun( gile g` tuch).Sifat kelobaanya(lobo:dlm bhs jawa)sedemikian besar sehingga ia berusaha dan seringkali berhasil-memikul sesuatu yang lebih besar dari badannya, meskipun Sesuatu tersebut tidak berguna baginya.
Dalam surah Al-Naml antara lain di uraikan sikap Fir`aun,juga Nabi Sulaiman a.s. yang memiliki kekuasaan yang tidak dimiliki oleh seorang manusiapun sebelum dan sesudahnya. Ada juga kisah seorang raja wanita yang berusaha menyogok Nabi Sulaiman demi mempertahankan kekuasaan yang dimikinya.(iya pinter!Ratu Balqis)
Lain lagi uraian Al-Quran tentang laba-laba(Kita intip laba2 yuuk..):Klo kita perhatikan, sarangnya adalah tempat yang paling rapuh (Coba di chek QS 29:41), ia bukan tempat yang aman, apa pun yang berlindung di sana atau disergapnya akan binasa.Jangankan serangga yang tidak sejenis, Jantannya pun setelah selesai berhubungan layaknya suami istri di sergapnaya juga untuk di musnahkan oleh betinannya,(Wah..gile bener tuch serangga betina!Kejam tenani!!)Nah,kalo sudah bertelur, Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga saling memusnahkan.Demikianlah kata sebagian ahli perseranggaan(hehehe…).Sebuah gambaran yang sangat mengerikan dari sejenis binatang.
Lain lagi ceritanya dengan lebah bro,Coba dech kita perhatikan tuh lebah,dia punya insting yang sangat kuat,yang dalam bahasa Al-Quran-``atas perintah Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sbagai tempat tinggal``(QS 16:68,Klo g` salah lho ya,) dan sarangnya dibuat berbentuk segi enam men,kok nggak segi lima atau segi empat,ternyata agat tidak terjadi pemborosan dalam lokasi. Yang dimakannya adalah kembang-kembang dan tidak seperti semut yang menumpuk-numpuk makanannya, lebah mengolah makanannya dan hasil olahanya adalah lilin dan madu yang sangat bermanfaat bagi manusia, lilin digunakan sebagai penerang dan madu-kata AlQuran-dapat menjadi obat yang menyembuhkan.Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, dan segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak akan mengganggu kecuali yang mengganggunya lebih dulu,bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat lho,(Hebat nggak tu lebah?!)
Sikap hidup manusianseringkali diibaratkan dengan berbagai jenis bianatang. Jelas ada manusia yang``berbudaya semut``,yaitu menghimpun dan menumpuk ilmu(tanpa mengolahnya) dan materi (tanpa disesuaikan dengan kebutuhannya).Budaya semut adalah budaya menumpuk yang di suburkab dengan ``budaya mumpung``.Tidak sedikit sedikit problem di lingkungan sekitar kita bersumber dari budaya tersebut. Pemborosan adalah anak kandung budaya ini yang mengundang hadirnya benda-benda baru yang tidak dibutuhkan dan tersingkirnya benda-benda lama yang masih cukup indah untuk dipandang dan bermanfaat untuk digunakan. Dapat dipastikan bahwa dalam masyarakat di lingkungan kita masing-masing,banyak sekali ``semut`` yang berkeliaran.
Entah berapa banyak juga laba-laba yang ada di sekitar kita ini, yaitu mereka yang tidak lagi butuh berpikir apa,di mana, dan kapan ia makan, tetapi yang ia pikirkan adalah``siapa yang akan mereka jadikan mangsa.``Nabi saw,mengibaratkan seorang Mukmin sebagai lebah,sesuatu tidak merusak dan tidak pula menyakitkan: Tidak makan kecuali yang baik,tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa Sesutu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya``
Dapatkah kita menjadi ibarat lebah, bukan semut apalagi laba-laba?(Spider-Man kalee……,)[]
Link (Sambungan Kabel)
Damarsantri di Milis Yahoo! Groups
Komentar Terakhir
Download Damarsantri
Gabung di Mailing List Damarsantri
Buletin Damarsantri
Alamat Redaksi :
Email Redaksi : damarsantri@yahoo.com, oswah@journalist.com
Semut, Laba-laba dan Lebah (Kewan opo kuwi??)
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 09.04 0 komentar
Label: Damarsantri Edisi 12, Fragmen
2012 Bukan film agama, itu fiksi ilmiah
2012
Bukan film agama, itu fiksi ilmiah
Doomsday 2012 dari status Fb Faishol Ahmad Posted Tue 17/11/09 at 11:35pm [ds/f]
2012 sempat menyita perhatian kita. Siapa sih yang nggak pengin lihat film ini? Di asrama santri putra copy film ini telah beredar meski tanpa translate dalam bahasa Indonesia. 2012?
Siapa sih yang juga bisa ngenahan untuk tidak ngomongin film ini. Berikut ini diskusi kecil penulis dengan temen2 di Fb yang merasa harus turut ikut andil dalam pembicaraan tema ini.
FA mui jatim ga ngebolehin nonton film kontroversi 2012. apakah mui tu cermin dr status keberagamaan kita ya?
FBM karena masyarakat kita lagi dilanda ketakutan kesedihan dari seringnya bencana belakangan ini. utk produser 2012: tega teganya.
AAM anda salah bung...jika anda orang yg mngerti agama 2012 mrupakan idle kiamat sughra...d mna pada hari tu dajjal d lahirkan tepat apa yang di kisahkan dalam kitab Alquran,riyaddhuscholihin, armageddon,n tentunya Alkitab jg mngulasnya..mari kita telaah kmbali smua yg brhubungan dg 12 tpat hari jumat...suku inca ja tlah mmprediksinya lbih awal dr koloni kita...hufth tp so far kita jg parno ni hanyalah intermezo alur kehidupan bung!! Istannah suwayyah
EAY pdhl Q mau nonton filmnya Lho. mgkn aja film itu bs mjd kesadaran, menambah ibadah, keimanan n ketakwaan Qt pada-Nya (jd ingat n siap" mati cz Qt hdp cm sebentar)
FBM masih kurang ya keimanan kita? sampe perlu penyadaran gituan, padahal bukti (kiamat) sangat dekat, baru kita alami blm ilang dari ingatan
AAM FBM: untuk kli ini ana stuju dg with pndapatmu bung....ni cma gambaran kiamat kecil(sughra),.....bukannya kita tidak sadar but kita munafik n kita dah buta akan prbedaan mana yg hak n yg bathil,hadzihil the luchiver's (dajjal's day) clues!!
EAY: anda terlalu lebay memaknai hdup ni,sorry if i say that....
QD yg mau nonton monggo..n siapkan tiket,yg g mau nonton no problem..nonton ceramah wae..
EAY iya emg kayaknya agak lebay statementQ, it doesn't matter I'm not a very sensitive girl. aQ jg ga prcy kl kiamat taun 2010 cz tanda" kiamat (kubro) blm terlihat smua, tp yg pntg kpn pun qt dipanggil tuk menghadap-Nya smg sll dlm keadaan khusnul khotimah.
RA Mui kn mmbrkn antsipasi ja bwt hal2 yg g di ingnkan. Trmasuk, mgkin ngayem2 bgsa qt ini. Slbhx, sbgy tlak ukur keagamaan qt, y ndak lah. Yg jls, qt brhak brkarya dn brfkr sesuai i'tiqad. Dn ttp dlm tnda kutip a y.
FBM yg prnah liat pasti tau, seharusnya ada kabah yg juga ikut hancur, tapi itu tdk ditampakan. aku rasa cerdas sutradara film itu menampilkan kabah dan orang yg mengitarinya sblm bencana itu trjadi. tapi umat islam terlalu sensitif. mui emang harus ambil peran, salut buat mui..
FBM adalah penulis, FA adalah pemilik Fb yang mengupdate status dengan tema ini. Ini hanya contoh kecil tapi setidaknya bisa menggambarkan bagaimana pendangan kita terhadap film ini dan cara kita menyikapiya.
2012 Bukan memang film agama. Jika tidak bila dikatakan ilmiah anda boleh mengatakana itu fiksi ilmiah. Meski begitu kaum beragama merasa perlu memberi catatan pada film ini. Tidak ada masalah. [ds/f]
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 09.00 1 komentar
Label: Damarsantri Edisi 12, Fragmen
Haruskah Oswah menjadi Uswah?
Haruskah Oswah menjadi Uswah?
Menjadi Uswah jauh lebih berat!
Oleh : Redaksi
Banyak teman-teman Oswah mengira tidak akan ada yang menyangka ada yang menginginkan “O” pada awal akronim kata Oswah harus dipaksa segera berevolusi menjadu “U”, menjadi Uswah, contoh yang baik, model Ideal.
Tuntutan itu muncul akhir-akhir ini seolah-olah Wahid Hasyim memang memerlukan orang-orang yang dianggap Ideal untuk dijadikannya panutan. Atau bisa dikatakan santri-santri Wahid Hasyim kehilangan arah sehingga memerlukan guide yang dapat menerjemahkan aturan-aturan formal (etika santri, tata tertib santri, kode etik) ketika didalamnya ditemukan kata-kata asing yang sulit dipahami. Dan parahnya anak-anak Oswah yang diinginkan mereka.
Wahid Hasyim adalah pondok pesantren yang berstatus yayasan. Dibawah yayasan itulah lembaga-lembaga bernaung dan bertanggung jawab kepadanya. Lembaga-lembaga itu meliputi Lembaga-lembaga Formal berupa Madrasah-madrasah, Madrasah Diniyah dan Ma’had Aly, Yang non-formal meliputi Organisasi Santri Wahid Hasyim, Lembaga Pengabdian pada Masyarakat, Panti Asuhan, Lembaga Seni Pesantren dan sebagainya. Nah, dalam hierarki struktural wahid Hasyim tersebut Oswah berstatus sejajar dengan lembaga lain.
Sebagai sebuah lembaga yang sejajar dengan yang lainnya, denga logika yang tidak bisa diterima akhirnya dengan terpaksa huruf ”O” harus dipertahankan. Alasannya sederhana, aturan-aturan formal itu jelas dan telah dijelaskan. Kedua, kedewasaan. Oswah mengira setiap santri sudah menemukan maknanya sendiri. Ketiga, tidak akan ada yang mau dijadikan model ideal. Keempat, Tidak ada yang Ideal. Meski secara ideasional sebenarnya dan seharusnya tidak lepas, tapi memahami jalan pikiran anak-anak Oswah akan terbawa pada sebuah kesimpulan, Oswah juga tidak lepas dari hukum. Dalam prakteknya ada sistem yang akan ditegakkan yang sistem itu dirancang untuk bisa tahan berbagai gempuran dan bisa berdiri kokoh tanpa penegak hukum atau jika ada perubahan struktur pada penegak hukum itu sendiri. Aneh memang, tapi itu hanya mungkin terjadi di pesantren.
Pada akhir tulisan ini, Oswah harus mempertahankan kata ”Oswah” dan mungkin dengan samar-samar bisa menolak dan bisa menerima konsep Uswah. Sepertinya diam-diam mengakui memang Oswah harus bisa menjadi model Uswah, hanya terlalu beresiko jika itu terjadi. Sebaiknya setiap santri harus menjadi Uswah, paling tidak secara minimal dan untuk dirinya sendiri.
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 21.12 0 komentar
Label: Damarsantri Edisi 8, Fragmen
The True of Santri, Menjadi Santri Sesungguhnya
The True of Santri, Menjadi Santri Sesungguhnya
Menjadi Santri Yang Sesungguhnya
Oleh : Kang Basith Ab
“Siapakah aku ?”, sebuah pertanyaan yang mungkin jarang kita tujukan pada diri kita sendiri, padahal sebuah “hadis” (ada yang mengatakan bukan hadis, tapi ucapan Yahya bin Mu’adz ar-Razi) mengatakan: “ Siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya.” Jika sekarang pertanyaan itu ditujukan pada kita sekarang, maka salah satu alternatif jawabannya adalah “SANTRI”, karena kita tinggal di pondok pesantren. Lalu, siapakah santri itu? Apakah kita sudah benar-benar menjadi dan sikap kita mencerminkan bahwa kita adalah “SANTRI” ?
SANTRI, jika kita perhatikan, kata ini terdiri dari lima huruf yaitu S-A-N-T-R-I. Jika kita otak-atik gatuk, maka setiap huruf itu mempunyai makna yang dalam. Mari kita lihat satu persatu. S adalah singkatan dari Salamatul Lisan, maksudnya adalah bahwa seorang santri harus menjaga mulutnya untuk tidak berkata hal-hal yang tidak bermanfaat. Sebuah hadis menyatakan: ‘diantara kebaikan Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.’ Nggosip, bicara ngalor ngidul tanpa adanya tujuan yang jelas adalah hal-hal yang harus kita minimalisir, begitu juga menjaga lisan kita untuk tidak menyakiti dan menyinggung perasaan orang lain. Jika kita renungkan, lebih lama manakah waktu yang kita gunakan untuk belajar, muthola’ah dengan waktu kita untuk ngobrol atau nggosip, ngrasani temenx atau ustadznya ?
Huruf kedua adalah A yang berarti amanah (trust). Orang tua kita, saudara, famili dan masyarakat tempat kita berasal telah menaruh kepercayaan besar pada kita bahwa kita di sini sedang mondok dan kuliah, sebagai santri sekaligus mahasiswa yang nanti ketika kita pulang pasti kita akan dituntut tentang apa yang telah kita peroleh di sini. Janganlah kita khianati amanah itu dengan bermalas-malasan dalam segala hal. Janganlah termasuk dalam adagium yang mengatakan: “ kuliah ga’ tau mlebu, demo ga’ tau melu, ngomong ora mutu, ngaji malah turu.” Naudzubillah min dzalik.
Niyyyatun Shalihah, adalah singkatan dari huruf N yang berarti niat yang benar. Penulis yakin ada banyak alasan kita tinggal di pondok dan sekaligus kuliah. Dari pada nganggur di rumah, belum mau bekerja, kemauan orangtua, mencari pasangan hidup, belum siap untuk menikah atau dinikahkan adalah sedikit motif atau niat kita berada di Jogja, khusushon di Wahid Hasyim ini. Bukan karena semua itu kita berada di sini !!! kita di sini adalah untuk me ’rekayasa sejarah’ kata Pak Amin Abdullah atau kata Ziauddin Sardar hingga kita dapat menemukan dan mengetahui ‘sejarah masa depan’ kita. Rekayasa masa depan yang cerah itu kita persiapkan dengan berthalabul ilmi dan ngangsu kaweruh di Wahid Hasyim tercinta.
Huruf keempat adalah T yang berarti Tawadlu’ (rendah hati), tidak sombong, mengakui kekurangan pribadi hingga kita selalu berproses untuk menjadi yang terbaik. Karena, jika kita merasa telah menjadi sempurna maka segala kejelekan kita akan tampak. Seorang penyair Arab mengatakan “ Idza tamma al-amru bada naqshuhu…..” (jika sebuah hal itu sempurna maka akan tampak kejelekannya).
Riyadlah adalah singkatan dari R yang berarti prihatin. Maksudnya adalah sebagai santri kita siap untuk melatih dan membiasakan hidup dalam keadaan yang tidak mengenakkan, juga tahan untuk tidak menuruti segala keinginan hawa nafsu. Ketika pagi hari yang dingin dan enak untuk terus bermimpi, bel berbunyi mengajak kita untuk mengaji. Setelah itu ketika kita akan mandi wa akhawatihi pun harus antri. Ketika sore setelah lelah seharian di kampus dengan berbagai tetek bengeknya, kita sudah dibel lagi untuk ngaji lagi sampai malam mulai larut, belum kegiatan-kegiatan yang lain selain itu. Sungguh, tidak mengasyikkan, membosankan dan membuat kita makan hati jika kita tidak menerima semua itu. Itulah Riyadlah ! Pada zaman dulu, lihatlah induk ayam yang rela untuk riyadlah dengan tidak makan, minum dan beranjak dari tempatnya selama 21 hari hanya untuk menetaskan telur-telurnya. Apa jadinya jika induk ayam itu tidak mau riyadlah, tentunya speciesnya akan musnah karena telur-telurnya itu telah habis kita makan.
Dan sebagai inti yang harus mendasari keempat hal di atas adalah I yang berarti ikhlas, sebuah rasa ketulusan dan kesadaran yang tinggi untuk tunduk dan patuh pada sistem yang ada dan mengikat kita di pondok kita. Berangkat ngaji tanpa menunggu bel berbunyi, berangkat tepat waktu, tidak meminta pulang sebelum jam berakhir adalah sedikit bukti keikhlasan kita untuk menerima konseksuensi kita sebagai seorang santri di Wahid Hasyim ini. Sudahkah kita berhak untuk mendapatkan gelar The True of Santri ? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Nuwun.
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 09.38 0 komentar
Label: Damarsantri Edisi 9, Fragmen