Masih untuk menghijaukan Wahid Hasyim?
Editorial, Dari Redaksi
Assalamualaikum! Wahid Hasyim yang bersemangat!
Sebelumnya Thanks atas sambutannya buat DS yang kemarin, ”penghijauan” benar-benar manjadi ide segar. Tanggapannya positif.
Sekarang semua warga wh lagi sibuk-sibuknya nyiapin buat acara wisuda dan haul besok, tetap semangat! Kalo jadi kita juga pengin buat DS edisi spesial Haul, jadi inget yang edisi spesial Akhirussanah kemarin nggak jadi diterbitkan, maaf banget. Terus lagi buat kepengurusan baru asrama-asrama, selamat bekerjasama dengan Oswah. Untuk pembaca setia DS, sampai sekarang kita belum punya sapaan yang akrab, kira-kira yang bagus apa ya??
Untuk edisi kali ini sebenarnya tidak begitu keren, biasa aja, tapi terserah anda memandangnya. Masih tetap pada semangat penghijauan, isu ini masih aktual, masih menarik dan belum terlaksana, mungkin DS akan publikasikan sampai bener-bener bisa dianggap sukses atau setidaknya untuk sedikit perubahan.
Masih tentang penghijauan, katanya di depan Al Hikmah banyak sansivera ya, itu bagus ditanam di asrama cowok. Dan buat segenap staf redaksi, dalam waktu dekat ini kita akan kumpul bareng untuk penerbitan edisi ke 10 besok!
Apa lagi ya,.. untuk yang munaqosyah, yang lagi siap-siap atau yang udah, yang nilainya bagus, selamat! Untuk yang belum puas nggak usah dibuat kecewa, itu saja. Untuk yang lagi kena flu ada baiknya baca DS kemarin disitu ada flowchart menarik dari UKSH tentang influenza. Dari Oswah, setelah sosialisasi tatib di asrama-asrama, kita belajar banyak hal, kita nggak takut! kita akan tetep semangat! Sekarang memang zamannya berbuat dan bersemangat!
Sekarang dari redaksi DS sendiri, ehm, nggak ada tulisan yang masuk ke redaksi kita bingung, kebanyakan tulisan juga buat kita bingung. Tiba-tiba banyak puisi-puisi masuk justru kita menganggap itu aneh, ketika DS dikasih sedikit daun-daun biar sejuk ketika difotocopy malah jadinya gelap, DS beubah tampilan tapi tetap saja membosankan, sekarag banyak usulan-usulan bagus masuk (terima kasih semuanya!!!) tapi DS masih pengembangan kok, kita belum sampai edisi ke 10 kan? Lagian kita mulainya dari awal juga tanpa bekal. Hanya semangat dan keberanian DS ini bisa muncul lagi.
Itu saja, Staf Redaksi DS yang baik hati
Buletin Damarsantri
Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta
Jl. K.H. Wahid hasyim Gaten Condongcatur Depok Sleman Yogyakarta
http://damarsantri.blogspot.com/
Link (Sambungan Kabel)
Damarsantri di Milis Yahoo! Groups
Komentar Terakhir
Download Damarsantri
Gabung di Mailing List Damarsantri
Buletin Damarsantri
Alamat Redaksi :
Email Redaksi : damarsantri@yahoo.com, oswah@journalist.com
Masih untuk menghijaukan Wahid Hasyim?
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 01.34 0 komentar
Label: Damarsantri Edisi 9, Editorial
The True of Santri, Menjadi Santri Sesungguhnya
The True of Santri, Menjadi Santri Sesungguhnya
Menjadi Santri Yang Sesungguhnya
Oleh : Kang Basith Ab
“Siapakah aku ?”, sebuah pertanyaan yang mungkin jarang kita tujukan pada diri kita sendiri, padahal sebuah “hadis” (ada yang mengatakan bukan hadis, tapi ucapan Yahya bin Mu’adz ar-Razi) mengatakan: “ Siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya.” Jika sekarang pertanyaan itu ditujukan pada kita sekarang, maka salah satu alternatif jawabannya adalah “SANTRI”, karena kita tinggal di pondok pesantren. Lalu, siapakah santri itu? Apakah kita sudah benar-benar menjadi dan sikap kita mencerminkan bahwa kita adalah “SANTRI” ?
SANTRI, jika kita perhatikan, kata ini terdiri dari lima huruf yaitu S-A-N-T-R-I. Jika kita otak-atik gatuk, maka setiap huruf itu mempunyai makna yang dalam. Mari kita lihat satu persatu. S adalah singkatan dari Salamatul Lisan, maksudnya adalah bahwa seorang santri harus menjaga mulutnya untuk tidak berkata hal-hal yang tidak bermanfaat. Sebuah hadis menyatakan: ‘diantara kebaikan Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.’ Nggosip, bicara ngalor ngidul tanpa adanya tujuan yang jelas adalah hal-hal yang harus kita minimalisir, begitu juga menjaga lisan kita untuk tidak menyakiti dan menyinggung perasaan orang lain. Jika kita renungkan, lebih lama manakah waktu yang kita gunakan untuk belajar, muthola’ah dengan waktu kita untuk ngobrol atau nggosip, ngrasani temenx atau ustadznya ?
Huruf kedua adalah A yang berarti amanah (trust). Orang tua kita, saudara, famili dan masyarakat tempat kita berasal telah menaruh kepercayaan besar pada kita bahwa kita di sini sedang mondok dan kuliah, sebagai santri sekaligus mahasiswa yang nanti ketika kita pulang pasti kita akan dituntut tentang apa yang telah kita peroleh di sini. Janganlah kita khianati amanah itu dengan bermalas-malasan dalam segala hal. Janganlah termasuk dalam adagium yang mengatakan: “ kuliah ga’ tau mlebu, demo ga’ tau melu, ngomong ora mutu, ngaji malah turu.” Naudzubillah min dzalik.
Niyyyatun Shalihah, adalah singkatan dari huruf N yang berarti niat yang benar. Penulis yakin ada banyak alasan kita tinggal di pondok dan sekaligus kuliah. Dari pada nganggur di rumah, belum mau bekerja, kemauan orangtua, mencari pasangan hidup, belum siap untuk menikah atau dinikahkan adalah sedikit motif atau niat kita berada di Jogja, khusushon di Wahid Hasyim ini. Bukan karena semua itu kita berada di sini !!! kita di sini adalah untuk me ’rekayasa sejarah’ kata Pak Amin Abdullah atau kata Ziauddin Sardar hingga kita dapat menemukan dan mengetahui ‘sejarah masa depan’ kita. Rekayasa masa depan yang cerah itu kita persiapkan dengan berthalabul ilmi dan ngangsu kaweruh di Wahid Hasyim tercinta.
Huruf keempat adalah T yang berarti Tawadlu’ (rendah hati), tidak sombong, mengakui kekurangan pribadi hingga kita selalu berproses untuk menjadi yang terbaik. Karena, jika kita merasa telah menjadi sempurna maka segala kejelekan kita akan tampak. Seorang penyair Arab mengatakan “ Idza tamma al-amru bada naqshuhu…..” (jika sebuah hal itu sempurna maka akan tampak kejelekannya).
Riyadlah adalah singkatan dari R yang berarti prihatin. Maksudnya adalah sebagai santri kita siap untuk melatih dan membiasakan hidup dalam keadaan yang tidak mengenakkan, juga tahan untuk tidak menuruti segala keinginan hawa nafsu. Ketika pagi hari yang dingin dan enak untuk terus bermimpi, bel berbunyi mengajak kita untuk mengaji. Setelah itu ketika kita akan mandi wa akhawatihi pun harus antri. Ketika sore setelah lelah seharian di kampus dengan berbagai tetek bengeknya, kita sudah dibel lagi untuk ngaji lagi sampai malam mulai larut, belum kegiatan-kegiatan yang lain selain itu. Sungguh, tidak mengasyikkan, membosankan dan membuat kita makan hati jika kita tidak menerima semua itu. Itulah Riyadlah ! Pada zaman dulu, lihatlah induk ayam yang rela untuk riyadlah dengan tidak makan, minum dan beranjak dari tempatnya selama 21 hari hanya untuk menetaskan telur-telurnya. Apa jadinya jika induk ayam itu tidak mau riyadlah, tentunya speciesnya akan musnah karena telur-telurnya itu telah habis kita makan.
Dan sebagai inti yang harus mendasari keempat hal di atas adalah I yang berarti ikhlas, sebuah rasa ketulusan dan kesadaran yang tinggi untuk tunduk dan patuh pada sistem yang ada dan mengikat kita di pondok kita. Berangkat ngaji tanpa menunggu bel berbunyi, berangkat tepat waktu, tidak meminta pulang sebelum jam berakhir adalah sedikit bukti keikhlasan kita untuk menerima konseksuensi kita sebagai seorang santri di Wahid Hasyim ini. Sudahkah kita berhak untuk mendapatkan gelar The True of Santri ? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Nuwun.
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 09.38 0 komentar
Label: Damarsantri Edisi 9, Fragmen