Mahalnya Sebuah Kesadaran
Ilmu dalam artian tidak hanya sebatas tahu, tapi bagaimana kita bersikap, berbuat dan mengambil faedah dari rasa tahu itu
Oleh Kang Basith Ab
Imam Khalil al-Farahidi-guru Imam Sibawaih, sesepuh ilmu Nahwu-pernah mengatakan: “ Tipe orang itu ada 4 (empat): (1)-Orang yang tahu dan ia tahu akan ketahuannya itu (rajulun yadri wa yadri annahu yadri)-ia adalah orang ‘alim maka belajarlah kepadanya, (2)-Orang yang tahu tapi ia tidak tahu akan ketahuannya itu (rajulun yadri wa la yadri annahu yadri)-ia adalah orang lalai maka ingatkanlah, (3)-Orang yang tidak tahu dan ia tahu akan ketidaktahuannya itu (rajulun la yadri wa yadri annahu la yadri)-ia adalah orang yang bodoh, maka ajarilah dan (4)-Orang yang tidak tahu dan ia tidak tahu akan ketidaktahuannya itu (rajulun ya ladri wa la yadri annahu la yadri)- ia adalah orang yang idiot (kumprung.jw) maka jauhilah.
Empat tipe manusia di atas mesti ada dalam setiap komunitas tempat kita berada, tentu dengan konteksnya masing-masing. Penulis yakin, maqalah yang sudah berumur 1000 tahun yang lalu itu masih revelan dengan kondisi kita sekarang ini. Marilah kita cermati, renungkan dan meraba diri kita masing-masing, termasuk tipe manakah kita dan sudahkah kita melakukan hal yang semestinya lakukan ?
Dari keempat tipe di atas, idealnya kita harus menjadi tipe pertama, kalau tidak minimal tipe ketiga. Mengapa demikian? Kata kuncinya adalah ’kesadaran’ atau ’rumongso’ (Jw), sadar akan ketahuan, ketidaktahuan maupun sadar akan eksistensi kita sebagai seorang santri. Bagaimana jadinya kalau setiap individu lebih mengedepankan ego-nya? Tahu dan sadar akan diri sendiri, siapa saya, apa yang harus saya perbuat, mengapa saya tidak boleh begini dan begitu adalah kunci untuk menciptakan sebuah kondisi yang harmonis dan nyaman di lingkungan tempat kita berada. Penulis merindukan sebuah suasana dimana pondok ini dan lembaga-lembaga yang bernaung di bawahnya tidak hanya disibukkan dengan penanganan pelanggaran tata tertib, norma, etika dan apapun namanya. Alangkah sangat tidak mengenakkan bila untuk menjadi seorang santri Wahid Hasyim yang patuh dan taat kita harus terlebih dahulu berhadapan dengan para "algojo" pondok.
Seringkali saya mendapat laporan atau kabar-kabar dan kadang melihat sendiri hal-hal yang tidak mengenakkan hati, baik dari santri putra maupun putri. Sebagai contoh kecil, tidak hanya sekali dan beberapa hari ini saya melihat Pengasuh sudah rawuh untuk ngaji pagi sementara hanya beberapa santri yang sudah datang dan suatu hari saya lihat sendiri, tak satu pun santri putra yang ada di masjid, sementara beliau sudah rawuh. Jika dengan Pengasuh saja demikian, apalagi dengan ustadz-ustadz yang lain ??? Atau mungkin sudah banyak dari kita yang sudah mencapai "maqam ma'rifat", begitu bunyi sebuah pesan singkat pengasuh yang masuk ke mobile salah seorang pengurus. Tapi saya yakin dan selalu berhusnudhdhan bahwa mereka sedang lupa, terpeleset ke dalam tipe orang kedua. Tapi apakah selama itu kita akan berada dalam keadaan ini?
Akhir kata, marilah kita ngelmuni (meng-ilmu-i) diri kita masing-masing, ngelmuni madrasah dan ngelmuni pondok dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Ilmu dalam artian tidak hanya sebatas tahu, tapi bagaimana kita bersikap, berbuat dan mengambil faedah dari rasa tahu itu, laisa al-'ilmu an ta'rifa al-majhuul, wa laakin an tastafiida min ma'rifatihi , begitu kata Syeikh Musthafa as-Siba'i dalam bukunya Haakadzaa 'Allamatnia al-Hayaat. "Peraturan dibuat tidak untuk membatasi, tetapi untuk membiasakan apa yang sebenarnya harus dilakukan." Begitu bunyi salah satu email yang masuk ke redaksi DS. Ah, andai setiap kita bisa meresapi kata-kata ini,...mak nyuzzzz.... Nuwun.
Buletin Damarsantri
Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta
Jl. K.H. Wahid hasyim Gaten Condongcatur Depok Sleman Yogyakarta
http://damarsantri.blogspot.com/
Link (Sambungan Kabel)
Damarsantri di Milis Yahoo! Groups
Komentar Terakhir
Download Damarsantri
Gabung di Mailing List Damarsantri
Buletin Damarsantri
Alamat Redaksi :
Email Redaksi : damarsantri@yahoo.com, oswah@journalist.com
Mahalnya Sebuah Kesadaran
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 07.17 0 komentar
Label: Damarsantri Edisi 10, Refleksi
Kepuasan Manusia
Kepuasan Manusia
Oleh : Kang Basith Ab
‘Kepuasan manusia adalah sebuah tujuan yang tak dapat digapai’ (Ridla an-Naas Ghayat la Tudraku). Begitulah ucapan Aktsam ibn Shaifi, seorang bijak pada masa Jahiliyah yang sempat hidup kala Rasulullah saw. diangkat menjadi rasul meski usianya telah menginjak 190 tahun.
Mungkin kita pernah mendengar cerita seorang ayah yang menuntun seekor keledai bersama anaknya menuju ke sebuah desa. Sang ayah dan anak berjalan menuntun keledai itu. Ketika mereka sampai di desa pertama, para penduduk berkomentar :” Alangkah tidak bijaknya orang ini, anaknya yang masih kecil ia suruh berjalan, sementara keledainya ia biarkan begitu saja tanpa penumpang.” Mendengar komentar ini, sang ayah lalu menaikkan anaknya ke punggung keledai tersebut. Ketika sampai pada sebuah desa yang lain, orang-orang berkomentar. “Betapa anak ini tidak punya tatakrama pada orangtuanya. Bagaimana tidak, ayahnya ia suruh berjalan, sementara ia enak-enakan naik di atas keledai.” Mendengar komentar ini, sang ayah meminta anaknya turun dan ganti ia yang naik ke punggung keledainya.
Ketika sampai di desa berikutnya, penduduk setempat berkomentar.” Benar-benar ayah yang tidak punya belas kasihan, ia enak-enakan naik keledai, sementara anaknya ia suruh berjalan.” Mendengar komentar tadi, sang ayah meminta anaknya untuk ikut naik serta di atas punggung keledai. Sampai di desa berikutnya, orang-orang setempat berkomentar;” Betapa orang ini tidak punya perikehewanan, keledai satu dinaiki dua orang sekaligus.” Mendengar komentar ini, sang ayah jengkel. Ia meminta anaknya turun dan ia pun menggendong atau memanggul keledainya itu. Sesampainya di desa tujuan, ia ditertawakan banyak orang, bagaimana tidak, keledai yang masih sehat ia panggul bukan ia naiki atau tuntun.
Begitulah kira-kira yang dihadapi oleh sebagian orang-orang yang kebetulan saat ini di beri amanah untuk memimpin berbagai lembaga yang ada di pondok kita ini. Penulis yakin pada benak setiap mereka ada sebuah impian besar yang ingin ia torehkan dalam sejarah Wahid Hasyim. “
Setiap prestasi besar berawal dari angan-angan atau utopia” Begitu kata Arkoun dalam sebuah bukunya. Tapi mewujudkan sebuah impian besar itu bukanlah hal yang mudah, berbagai komentar, penentangan (meski tak sempat terucap), cibiran, ketidakpuasan-sebagaimana penonton sepakbola yang geram karena team andalannya belum juga mencetak gol di gawang lawan padahal kesempatan datang tidak hanya sekali-adalah hal biasa yang mesti dihadapi dengan senyuman (kecuali bagi yang sariawan, sakit gigi atau patah hati ..:-) disamping dukungan yang juga tidak bisa dikatakan kecil.
Untuk memulai langkah pertama, orang-orang itu ingin menjalankan atau ‘menegakkan’ sesuatu yang disebut sebagai sebuah ‘sistem’.
Ada sistem di Oswah, Madin, LPM, MI, MTs, MA dan sebagainya dan mau tidak mau langkah semacam ini menimbulkan ketidakpuasan dari berbagai pihak, memakan beberapa ‘korban’ dan menimbulkan kesan ‘galak’, ‘sangar’, membatasi kebebasan, melanggar HAM dan sebagainya. Ambillah contoh agenda imtihan sebagaimana tercantum dalam kalender akademik baik dari segi waktu, persyaratan dan tetek bengek yang mungkin dirasa merepotkan.
Ada juga program Qira’atul Kutub Asrama-yang akan diaktifkan pasca imtihan- sebagai program Oswah yang diback-up penuh oleh Madin dan Ma’had ‘Aly juga secara otomatis mengurangi istirahat dan waktu luang setiap individu yang ada di sini. Di sini, penulis atas nama pribadi ingin mengatakan “ Tidak !”.
Sebuah sistem dibuat dan dijalankan dibuat bukan untuk membatasi gerak dan kreatifitas semuanya, tapi untuk menuju satu muara yaitu Wahid Hasyim yang lebih baik. Juga sebagai bentuk tanggungjawab atas amanah yang dibebankan kepada mereka. Ya, amanah; sebuah hal yang langit dan bumi pun menolak untuk memikulnya. (QS Al Ahzab: 72).
Akhirnya, marilah, pada awal tahun baru ini kita mentajdid an-niyyat sambil berintrospeksi diri untuk membuat skenario kehidupan menuju kondisi yang lebih baik. Orang-orang terdahulu (mutaqaddimun) pernah bermimpi bertemu Rasulullah saw. Kemudian dia bertanya :” Wahai Rasulullah, berilah kami wasiat !”. Rasul menjawab: “ Siapa yang hari ini sama dengan kemarin-tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik- maka ia adalah orang yang tertipu. Dan siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka ia adalah orang yang terlaknat”. (Latha’if al-Ma’arif: I/300).
Jadi, nikmatilah apa yang ada di hadapan kita dan berusahalah untuk berbuat yang terbaik. Life is not problem must be solved but it is reality to be enjoyed. Nuwun.
Buletin Damarsantri
Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta
Jl. K.H. Wahid hasyim Gaten Condongcatur Depok Sleman Yogyakarta
http://damarsantri.blogspot.com/
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 06.49 0 komentar
Label: Damarsantri Edisi 7, Refleksi
Korban (Daging) Qurban
Korban (Daging) Qurban
Oleh: Arjuna Ireng Al-Barbasi
Sampe dino iki kuncung iseh loro wetenge. Kit wingi bengi deweke mencret bolak-balik nyang WC tekan ping sepuluh. Kuwi mau mergone de’ne kokehen sate lan daging qorban. Bedo ceritane karo Bendot. Senajan lemu awake, tapi kropos untune. Sangkin keenaken anggone mangan sate, sampe untune podo loro. Dasar santri, nek kurang, koyo kelaparan, nek kebagian ora tanggung-tanggung, lahap habis, nganti-nganti over dosis. Ono sing loro untu, sakit kepala, mules, awake podo loro dan sebagainya. Wah…kok malah podo dadi korban daging qurban??
“Ndot, menurutmu piye, masakan gule arek-arek wedho wingi?? Teko,e Kang Somad neng tengah-tengah jagongan santri putra, sing lagi podo nongkrong ning koperasi mburi, asrama Abdul Qodir.
“Jujur ya Kang, menurutku kurang….??
“Maksud lho..kurang opo Ndot. Kurang asin, kurang pedes opo kurang nyokot?” Somad dadi penasaran.
“ Sabar Kang, maksudku…Kurang okehh! Lha piye, moso sa asrama mung dike’i sa plastic thok??
“Wah..tak kiro ki kurang opo, jebule kurang okeh. Yo bener, wetengmu iku ukurane telung porsi kok. Ngene mas Bendot, sing penting kan roto, dari MI sampai mahasiswa dan ustadz-ustadznya kebagian daging semua.
Tak kirain kurang apa gitu. Nek kurang asin, mergo durung podo pengin kawin. Nek kurang manis, mergone sing masak cahe wis manis-manis; koyo mba Maria, fatimah, Ifah, Hajimah, Hikmah, Ulfa, Sahla, Khotijah, Lili lan liyo-liyone. Nek menurutmu kurang pedes, tinggal njambak wae rambutmu, ha...ha…
“Tapi menurutku masakan gule wingi memang ono sing bedo Kang! Sela Kuncung, si kurus yang tukang icip-icip masakan nusantara.
“Bedane piye Cung. Nek rasane rodo kurang, yo wajar, dimaklumi, jenenge wae masakan ala santri, konsepe wong akeh, sing masak yo wong okeh juga. Alhasil, rasanya rodo rame-rame he..he..., tapi enak juga kok, nyatanya sekali datang, habis ludes, cuma tinggal tulang.
“Nggak Kang, tenan masakane beda..!?
Maksudmu beda piye?
Beda…Beda karo mie ayam, ha…ha…!!!
“Yo cethu lah…
Wis, saiki sing penting bukan masalah daging qurbane. Tapi sejatine awak dewek kabeh kudu ngerti makna lan spirite qurban. Spirit qurban yoiku, pengorbanan lan perlawanan. Pertama, pengorbanan. Bahwa segala hal untuk mencapai kesuksesan itu membutuhkan pengorbanan, tidak instant. Kayak pengin pinter, pengin IP-ne apik, pengin dadi PNS, pengin dadi pengusaha, termasuk nek pengin cintane diterima, utowo pengin nikah karo sopo wae, kudu usaha lan butuh pengorbanan. Kedua, Perlawanan. Yaitu melawan segala pengaruh negatif (hawa nafsu). Diibaratkan dengan hewan qurban. yang disembelih, sejatinya adalah simbol membunuh nafsu hewaniyah manusia, sehingga dengan qurban akan menjadikan manusia saling mengerti dan berbagi dengan manusia lainnya. Terlebih tanggal 9 Desember kemarin, kita memperingati hari Anti Korupsi Se-Dunia. Mari dengan semangat qurban kita lawan korupsi di segala lini. Termasuk belajar untuk tidak korupsi waktu dan korupsi minta kiriman ke ortu kita, he..he….
Wallahu A’lam bi Showab
Buletin Damarsantri
Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta
Jl. K.H. Wahid hasyim Gaten Condongcatur Depok Sleman Yogyakarta
http://damarsantri.blogspot.com/
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 06.49 0 komentar
Label: Damarsantri Edisi 3, Refleksi
Marhaban, Ya.. Muharram (1430 H)
Marhaban, Ya.. Muharram (1430 H)
Oleh : Arjuna Ireng Al Barbasi
Pirang dina meneh, awake dewek arep mlebu ning tahun 2009. Senajan santri, rupane Kuncung Lan Bendhot ora gelem ketinggalan anggone nyambut tekane tahun baru 2009. Serentetan acara wis disiapna, diantarane; tuku kembang api, arep bakar-bakaran jagung karo ronda, dolan ning obyek wisata lan nyiapna acara khusus sing ora kalah gaunge, yaiku silaturahmi ning umahe calon mertua, ha..ha..
Nanging kanggone dewek, khususe para santri Wahid Hasyim, kaya-kaya akeh sing padha lali. Disamping awak dewek arep mlebuni tahun baru 2009, uga dewek kabeh arep mlebu neng tahun baru Islam, yaiku 1 Muharam 1430 H. Tapi sayang, zaman saiki, khususe generasi enom, akeh sing pada nglali’ke bahkan ora peduli karo tahun baru Islam.
“Oh..dadi awak dewek kabeh iki yo arep nyambut tahun baru Islam, Kang Somad? Kuncung, nembe nyadar.
“Iya Cung. Tahun baru Islam tanggal 1 Muharam 1430 H, tepate mengko tanggal 29 Desember 2008. Nek cara Jawa, kondang dijenegi tanggal “1 Syura”. Kang Somad njelasna karo ngopi bareng neng ngarepe asrama Abu Bakar.
“Terus, apa istimewane wulan Muharam iku, Kang?” Bendot nambahi pitakonan.
“Ngene mas Bendot. Wulan Muharam kuwi akeh sejarahe lan faedahe.”
Pertama, Muharam jamam mbiyen, Kanjeng Nabi sukses mbangun mesjid, sing gunane ora mung kanggo ibadah thok, tapi uga kanggo tempat musyawarah. Nomer loro, Tahun semono, Rasulullah SAW bisa nepungna persaudaraan antara kaum Anshor lan Muhajirin. Kelawan persaudraaan mau, bisa ningkatna Ukhuwah Islamiyah. Sing semono bisa dijupuk hikmahe. Yaiku, Ukhuwah Islamiyah ora beda-beda’ke suku, rasa, bangsa, warna kulit lan bahasa. Nomer telune, Nabi Muhammad nganakna perjanjian; bareng-bareng mbantu, tetulungan, antarane muslim karo non-muslim, uga nyepakati kebebasan anggone milih agama. Nomer papate , Mulai tahun iku, nabi Muhammad wis bisa gawe dasar-dasar perpolitikan lan perekonomian Islam, sing hasile yaiku masyarakat sing “Madani”.
Mulane, nyambut tekane tahun baru Hijriyah iki, ayo...awak dewek kabeh pada meresapi makna hijrah sing sebenere, yaiku ngapiki-ngapiki keadaane menungsa marang keadaan sing luwih becik. Terus, pada introspeksi lan evaluasi diri, wis akeh apa durung,, anggone dewek ngukir prestasi lan ibadah. Kaya nyetir ngendikane Si Mbah Nyai Hj, Hadiah neng pengajian malam Senin; “Nek mbiyen Almarhum (KH. Abdul Hadi), iku mesti puasa ing awal Muharam, sukur kanggone para santri bisa tekan tanggal 10 Muharam. Terus...biasane santri bareng-bareng maca donga akhir lan awal tahun bareng-bareng ana ing mesjid”.
Wallahu A’lam Bi Showab.
Buletin Damarsantri
Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta
Jl. K.H. Wahid hasyim Gaten Condongcatur Depok Sleman Yogyakarta
http://damarsantri.blogspot.com/
Diposting oleh Buletin Damarsantri di 06.47 0 komentar
Label: Damarsantri Edisi 4, Refleksi

